Di hari menyambut Maulidur Rasul ini, terasa amat sayu dan sedihnya apabila  mengenang teks ucapan DS Anwar Ibrahim ceramah beliau di LSE pada tahun lalu yang mengangkat orang seperti Dante  sebagai tokoh membawa keamanan dengan “Dante’s vision of universal peace” dan mengaitkan lagi dengan tokoh ilmuan Islam dengan “linking Dante’s vision directly to the philosophical outlook of Muslim luminaries including al-Farabi and Ibn Rushd“.

Amatlah jauh tersasar rumusan Anwar jika orang seperti Dante, “seorang penyair agung dalam tradisi Kristian“, ini hendak dianggap sebagai tokoh pluralis dan meletakkan seolahnya Dante bersetuju dengan tema Pluralisme Agama yang dibawa oleh Anwar kini dengan menyama-ratakan Islam dengan agama Krsitian dan lain-lain agama lagi. (baca ciri-ciri Pluralisme Agama di sini)

Ceramahnya yang bertajuk “Religion and Pluralisme in a Divided World” (klik untuk baca teks asalnya) turut mengaitkan Maulana Jelaluddin Rumi sebagai tokoh pluralis – dan telah saya jawab dengan “Pembohongan di atas nama Maulana Jelaluddin Rumi dan kitab Mathnawinya“.

Mustahil bagi orang seperti Dante boleh kita terima sebagai pembawa “universal peace” menyamakan pula dengan orang yang dihinanya.

وَ مَا أَرْسلْنَك إِلا رَحْمَةً لِّلْعَلَمِينَ‏

“Dan tiadalah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” Al-Anbiayaa:21

Seperti tercatat di dalam triloginya, The Divine Comedy, Dante telah menghina Rasulullah s.a.w. dengan meletakkan Nabi s.a.w. dan Sayyidina Ali r.a. di dalam neraka.

Inferno XXVIII, 19-42.

The poets are in the ninth chasm of the eighth circle, that of the Sowers of Discord, whose punishment is to be mutilated.

Mahomet shows his entrails to Dante and Virgil while on the left stands his son Ali, his head cleft from chin to forelock.

Gambaran ilustrasi di atas adalah yang diambil dari salah satu lukisan-lukisan dalam pelbagai manuskrip yang tersimpan di perpustakaan-perpustakaan besar di dunia termasuk ada yang telahpun membuat satu filem bisu pada tahun 1911 (The 1911 Italian silent film L’Inferno contained a dramatization of the scene; Mohammed is shown with his entrails hanging out) – semuanya ini boleh diakses melalui carian internet.

Bagaimana mungkin orang seperti ini dikira pluralis seperti ide yang dibawa oleh John Hick?

Menurut Ustaz Muhammad Uthman El-Muhammady, dalam Pluralisme Agama dan Bahayanya Kepada Umat Islam (yang mengulas dengan panjang lebar bahaya Pluralisme),  Dante adalah seorang yang teguh dengan teologi Katholiknya dan seorang yang otordoks berdasarkan tulisan-tulisannya yang lain termasuk ‘Monarchia’ dan sangatlah mustahil dia seorang yang boleh menerima agama lain.

Semoga Allah sentiasa membimbing kita di jalan yang benar dan menyelamatkan kita semua dari hasutan dan bisikan yang menyesatkkan.