You are currently browsing the monthly archive for November 2014.

Azmin MB yang mentah hendak menunjuk pandai hanya kerana survival politiknya. Memahami PAS sudah mula tidak bersama Pakatan RAPUH, undi orang Kristian sangat ditagih.

Dalam ucapan di kalangan orang-orang DAP, dia minta untuk pulangkan Bible. Bible itu bukan milik kita, katanya. Bertepuklah pelampau evangelis Kristian.

Maka kita hendak suruh Azmin minta juga supaya semua dadah yang dirampas oleh bahagian narkotik dipulangkan kembali kepada pemiliknya para pengedar dadah – supaya pengedar juga dapat bertepuk sorak atas sokongan hebat MB Selangor kepada para penjenayah. Dadah-dadah itu bukan milik polis. Jangan simpan. Ianya milik para pengedar. Faham? Hak milik barangan dijamin dalam Perlembagaan! Maka para pengedar dadah dijamin untuk memiliki barangan mereka? Bebas mengedar?

Enakmen-Selangor-1988-9-1TIDAK. Pengedar dadah melanggar undang-undang. Mereka adalah pesalah. Mereka adalah PENJENAYAH.

Begitulah juga Bible yang dirampas bersalahan dengan Enakmen Pengawalan Ugama Bukan Islam (Kawalan Perkembangan Di Kalangan Orang Islam) 1988. Ianya suatu kesalahan. Juga JENAYAH di bawah undang-undang negeri Selangor.

MB Azmin MEMBELA PENJENAYAH? Undang-undang negeri Selangor yang MBnya sendiri langgar ni!!! Azmin menjual agama hanya kerana politik.

Sebab itu awal-awal lagi kita sudah tahu … Amaran Kepada Azmin Ali: Jangan SALAH GUNA Kalimah Allah

**********

Nak faham isu rampasan Bible? Baca ini: Kereta MYVI Merah BXM 2345 Kini Ditahan Di Balai Polis!!! dan baca juga ini: Gani Patail Melanggari Al Quran, Al Hadith dan Ijma’ Ulamak

pluralisme agama - cover1Artikel ini ditulis oleh Dr. Syamsuddin Arif, dipetik dari buku PLURALISME AGAMA Satu Gerakan Iblis Memurtadkan Ummah terbitan Pertubuhan Muafakat Sejahtera Masyarakat Malaysia (MUAFAKAT) – untuk medapat maklumat lanjut sila hubungi pejabat MUAFAKAT – Tel: 03 4106-0175

************

Banyak projek yang telah dan sedang digarap atas nama ‘dialog antara agama’, namun sedikit mereka yang mengetahui asal muasal serta latar belakangnya, dan lebih sedikit lagi yang memahami andaian dan tujuan sebenar yang terselit di balik pelbagai aktiviti dialog antara agama. Tulisan ini saya pecah menjadi dua bahagian: bahagian pertama mengulas sejarah dialog antara agama dan latar belakangnya, manakala bahagian kedua menghurai pola hubungan antara Islam dengan agama lain – khususnya agama Kristian sebagaimana tercermin dalam sikap, perilaku dan karya tulis ulama Islam sepanjang sejarah sejak zaman dahulu hingga sekarang ini.

Dari Toleransi ke Dialog 

Istilah ‘dialog antara agama’ adalah terjemahan dari interfaith atau interreligious dialogue yang pertama kali dicetuskan oleh Gereja Katholik selepas Konsili Vatikan II, di mana antara lain dibahas sikap Gereja terhadap agama-agama lain. Dalam sebuah dokumen rasmi berjudul Nostra Aetate (“Di Zaman Kita”) dinyatakan bahawasanya Gereja Katholik tidak mengingkari adanya kebenaran dan kesucian pada agama-agama selain Kristian (Ecclesia catholica nihil eorum, quae in his religionibus vera et sancta sunt, reicit), bahawasanya agama-agama lain tersebut adalah pantulan cahaya kebenaran yang menerangi seluruh umat manusia (haud raro referunt tamen radium illius Veritatis, quae illuminat omnes homines), namun tetap menegaskan pendiriannya bahawa Jesus Kristus ialah satu-satunya jalan [keselamatan], satu-satunya kebenaran, dan satu-satunya kehidupan (Annuntiat vero et annuntiare tenetur indesinenter Christum, qui est via et veritas et vita’ [Gospel Yohannes (John) 14.6] yang hanya dengannya manusia dapat hidup beragama secara utuh dan sempurna (in quo homines plenitudinem vitae religiosae inveniunt). Di sini tersirat ambivalensi Gereja: di satu sisi mengesankan perubahan sikap dari eksklusif menjadi inklusif, tetapi di sisi lain tetap meyakini bahawa keselamatan hanya bisa diraih oleh para pemeluk Kristian. Seperti kata St. Cyprianus: “Salus extra ecclesiam non est, tak ada keselamatan di luar gereja.”

Selanjutnya Gereja mengimbau kepada ‘anak-anaknya’ supaya mengadakan dialog dan kerja-sama dengan pemeluk agama lain secara hati-hati dan penuh cinta kasih dengan tetap menyatakan keyakinan dan kehidupannya sebagai seorang Kristian demi memelihara dan meningkatkan kebaikan moral maupun spiritual yang terdapat pada agama-agama tersebut beserta nilai-nilai masyarakat dan budayanya (Filios suos igitur hortatur, ut cum prudentia et caritate per colloquia et collaborationem cum asseclis aliarum religionum, fidem et vitam christianam testantes, illa bona spiritualia et moralia necnon illos valores socio-culturales, quae apud eos inveniuntur, agnoscant, servent et promoveant). Dari sini juga jelas bahawa dialog dan kerjasama itu tidak boleh melunturkan apa lagi menggugurkan keyakinan alias akidah yang sedia ada.

Dialog dengan kaum Yahudi dan Muslim konon bertujuan mengikis rasa permusuhan serta menumbuhkan sikap saling memahami (ad comprehensionem mutuam), saling memaklumi dan saling menghormati (mutuam utriusque cognitionem et aestimationem). Namun sekali lagi ditegaskan bahawa sikap bersahabat dan non-diskriminatif kepada semua bangsa (conversationem … inter gentes habentes bonam (1 Petrus 2,12) yang mengiringi dialog antara agama, selain dimaksudkan untuk hidup rukun damai dengan sesama (cum omnibus hominibus pacem habeant), pada hakikatnya dan akhirnya adalah upaya halus agar seluruh manusia menjadi ‘anak-anak Tuhan Bapak di Sorga’ (ita ut vere sint filii Patris qui in caelis est). Kesimpulannya, dialog antara agama merupakan pakej terbaru Kristianisasi yang dibungkus dalam misi perdamaian, kemanusiaan, dan persaudaraan.

Untuk tujuan tersebut Pope Paul VI mendirikan Segretariato per i non-Cristiani pada 1964 yang pada 1988 ditukar namanya menjadi The Pontifical Council for Interreligious Dialogue (PCID). Sekretariat ini diberi tugas menyelenggarakan pelbagai forum antara agama, membentuk dan – kalau sudah ada – mendukung individu mahupun organisasi atau lembaga yang mau bekerjasama dan aktif terlibat dalam kegiatan mereka. Melalui Dewan Gereja se-Dunia (The World Council of Churches) telah diadakan secara rutin dialog antara agama di berbagai belahan dunia. Sekretariat tersebut juga menerbitkan sebuah buku panduan, khususnya untuk ‘berdialog’ dengan kaum Muslim. Di tataran akademik telah diluncurkan pula jurnal ilmiah bernama Islamochristiana (terbitan Pontificio Istituto di Studi Arabi e d’Islamistica, Vatikan), jurnal Studies in Interreligious Dialogue (oleh The European Society for Intercultural Theology and Interreligious Studies bekerjasama dengan penerbit Peeters, Belgia), Bulletin of the Royal Society for Inter-Faith Studies, dan jurnal Islam and the Christian-Muslim Relations (terbitan Department of Theology and Religion, Universiti Birmingham, England). Misi baru ini didukung oleh sejumlah tokoh akademik kelas dunia. Sebutlah di antaranya Karl Rahner yang membuat istilah anonymous Christian untuk orang-orang non-Kristian yang tidak menyadari bahawa dirinya Kristian. Profesor Hans Küng dari Universiti Tübingen yang mengetuai ‘Foundation for A Global Ethic’ menekankan pentingnya dialog antara agama karena perdamaian dunia mustahil tercapai, katanya, selagi konflik antara agama tidak diselesaikan. Sementara itu, Profesor John Hick dari Universiti Birmingham melontarkan gagasan Global Theology (satu teologi bagi semua pemeluk agama sedunia) sebagai konsekuensi dari dialog antara agama dan pluralisme agama.

Di Indonesia, gerakan dialog antara agama dimulai pada 1970-an. Pionirnya adalah A. Mukti Ali (Menteri Agama waktu itu) diiringi Ahmad Wahib, Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo dan Djohan Efendi. Kemudian pada 1990-an dialog antara agama digerakkan oleh beberapa tokoh Kristian semacam Th. Sumartana. Beberapa NGO lalu didirikan untuk menyebarluaskan gagasan inklusivisme dan pluralisme agama. Contohnya, Masyarakat Dialog Antara-agama (MADIA) yang dirintis oleh Budhy Munawar-Rachman, Bernardia Guhit, Trisno Sutanto, Retnowati, Kautsar Azhari Noer dan Komaruddin Hidayat. Adapula yang namanya DIAN –kependekan dari Institute for Interfaith Dialogue in Indonesia (Interfidei) Yogyakarta yang sering menggelar pertemuan antara jejaring kelompok agama seperti di Malino dan Banjarmasin. Kemudian muncul pula Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) yang diresmikan oleh Gus Dur (ketika itu masih Presiden RI) dan dimotori oleh orang-orang semacam Djohan Effendi, Siti Musdah Mulia, dan lain-lainnya. Pada tahun 2000 berdiri pula Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) di mana salah satu mata kuliahnya adalah Inter-Religious Dialogue dengan ko-instruktur J.B. Banawiratma, Zainal Abidin Bagir dan Fatimah Husein. Pesan yang acapkali didengungkan adalah bagaimana merayakan perbedaan, mencari persamaan dan titik-temu untuk membangun kehidupan bersama yang aman, damai dan harmonis. Dalam praktiknya kemudian para penganjur dan peserta dialog antara agama bisa melakukan ‘sembahyang bersama’ (common prayer) dan bahkan nikah dengan orang dari agama lain, sebagaimana kita saksikan dalam trilogi film dokumenter produksi CRCS berjudul ‘Uniting the divided’ (Menyatukan yang terbelah), ‘Inter-religious marriage’ (Menikahi agama), dan ‘I am a pious kid’ (Aku anak sholeh) yang diluncurkan pada 2007. Pembenaran atas praktik keliru ini disediakan oleh Nurcholish Madjid dan rakan-rakannya dalam buku Fiqih Lintas Agama.

Tipologi Hubungan Islam dengan Kristian

Apabila diteliti dengan saksama, hubungan Islam dan Kristian pada tataran intelektual maupun sosio-kultural serta ekonomi-politik terjadi dalam tiga pola. Pertama, pola polemis-apologetik; kedua, pola konflik-konfrontatif; dan ketiga, pola irenik-dialogis. Pola pertama, dari perkataan Yunani kuno ‘polemikos’, artinya suka berlawan atau bermusuhan, dan apologetik (juga dari bahasa Yunani kuno ‘apo’ dan ‘legô’, bicara menjauhi persoalan untuk membela diri, ditandai dengan perang keyakinan, dimana masing-masing pihak berusaha menjatuhkan pihak lain. Pola kedua berupa aksi militer dan pertempuran fisik. Adapun pola ketiga menunjukkan toleransi penuh, hidup bersama dengan rukun dan damai (peaceful coexistence) bersama umat agama lain sebagaimana dipraktikkan selama berabad-abad sejak zaman Rasulullah di Madinah dan generasi sesudahnya.

Polemik Cendekiawan

Pola polemik-apologetik kita temukan akar-akarnya di dalam kitab suci al-Qur’an. Terdapat cukup banyak ayat-ayat al-Qur’an mengkritik dan mengecam akidah orang Kristian yang hakikatnya adalah koreksi langsung dari Allah SWT. Namun sayangnya, bagi mereka yang kafir kepada Nabi Muhammad SAW, semua teguran dan koreksi tersebut dianggap sekadar pendapat peribadi beliau. Hal ini tidak mengejutkan, mengingat sejak awal pun mereka sudah mengingkari kenabian dan kerasulan beliau, sehingga kitab suci al-Qur’an mereka pikir cuma karangan Nabi Muhammad SAW–argumen tipikal orang kafir sebagaimana disitir dalam surah al-Muddatstsir ayat 25: “Ini kan cuma perkataan manusia” (in hadza illa qawlu ’l-basyar). Rasulullah SAW juga dilarang berkompromi dalam perkara akidah maupun ibadah, sebagaimana ditegaskan dalam surah al-Kafirun: “Katakanlah: Wahai orang-orang kafir, aku tidak menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak menyembah apa yang kusembah. Dan aku bukan penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah apa yang kusembah. Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku.” Ayat-ayat suci ini tidak menyuruh perang dan tidak pula menganjurkan permusuhan. Apa yang diperintahkan di sini adalah orang Islam mesti bersikap tegas dan kukuh dengan keyakinan dan kebenaran agamanya.

Sudah barang tentu polemik tersebut berlangsung cukup seru. Dari pihak Kristian terkenal Yahya ad-Dimasyqi alias Johannes Damascenus (hidup sekitar 655-750 Masehi) yang pertama kali menulis karya berjudul Peri Haireseôn. Dituduhnya agama Islam itu sesat dan menyeleweng karena mengajarkan fatalisme dan bermacam-macam tuduhan lain. Upayanya itu diteruskan oleh generasi berikutnya. Kaisar Byzantium Leo III konon pernah mengirim surat polemik kepada Khalifah ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Aziz di Damaskus. Sementara itu Theodore Abu Qurrah (w. 820), ‘Abd al-Masih al-Kindi (fl. 830), dan ‘Ammar al-Basri (fl. 850) pun aktif membuat tulisan-tulisan polemik-apologetik sebagai pembelaan terhadap doktrin-doktrin Kristian. Di abad kesepuluh, Yahya ibn ‘Adi (w. 974) membuat karya serupa dalam bahasa Arab untuk menangkis serangan al-Kindi. Selanjutnya Petrus Venerabilis (w. 1156), Ricoldo de Monte Croce (w. 1320), Nicolaus Cusanus (w. 1464) dan Martin Luther (w. 1546) bertungkus-lumus mencipta imej buruk mengenai Islam dan Nabi Muhammad SAW dalam karya tulis mereka. Di zaman modern muncul intelektual semacam Voltaire (w. 1778) dan orientalis-misionaris seperti Aloys Sprenger (1893), William Muir (w. 1905) dan rakan-rakannya yang melakukan pelecehan serupa. Mereka gambarkan Nabi Muhammad itu seolah-olah ‘sakit jiwa’, ‘penganjur sektarianisme’, ‘padri pembelot’, ‘pengobar peperangan’, ‘penggemar wanita’ dan sebagainya.

Sementara dari pihak Islam dikenal sejumlah tokoh-tokoh ulama dan cendekiawan yang aktif dalam polemik dan meninggalkan karya tulis. Menurut catatan Ibn an-Nadim dalam kitab al-Fihrist, hampir semua ‘pentolan’ Mu‘tazilah pernah menulis karya polemik terhadap Kristian, mulai dari Abu ’l-Hudzayl al-‘Allaf dan al-Jahizh hingga al-Qadhi ‘Abd al-Jabbar. Ulama Syi‘ah pun tak ketinggalan. Tokoh Syi‘ah Zaydiyyah di Yaman bernama al-Qasim ibn Ibrahim al-Hasani al-Rassi (w. 246/899) dikenal dengan kitabnya ar-Radd ‘ala n-Nashara. Bahkan cendekiawan liberal seperti al-Warraq pun menyerang doktrin-doktrin Kristian. Dari kalangan Ahlus Sunnah tercatat nama-nama Ibn Sahnun (w. 256/870) yang menulis kitab al-Hujjah ‘ala n-Nashara, Abu l-Qasim al-Balkhi (w. 319/931) yang mengulas ajaran Kristian secara kritis dalam kitabnya: Awa’il al-Adillah. Di abad sesudahnya ada Imam al-Juwayni (w. 478/1085) yang menulis kitab Syifa’ al-‘Alil fi r-Radd ‘ala man baddal at-Tawrat wa al-Injil dan murid beliau Imam al-Ghazali (w. 505/1111) dengan kitabnya yang berjudul ar-Radd al-Jamil li Ilahiyyati ‘Isa bi-sharih al-Injil.

Karya-karya polemik terus bermunculan, seperti ditunjukkan Imam Fakhruddin ar-Razi (w. 606/1209) dalam Munazharah fi r-Radd ‘ala l-Yahud wa n-Nashara. Di samping beliau, ada dua lagi tokoh penting yang juga aktif berpolemik di abad ke-7 hijriah ini. Mereka adalah Najmuddin az-Zahidi (658/1260), penulis ar-Risalah an-Nashiriyyah, dan Syihabuddin al-Qarafi (w. 684/1285) yang menulis al-Ajwibat al-Fakhirah ‘an al-As’ilat al-Fajirah. Abad berikutnya menyaksikan Ibn Taymiyyah (w. 728/1328) dengan kitabnya yang berjudul al-Jawab as-Shahih li-man baddala Din al-Masih, disambung murid setia beliau, Ibn Qayyim al-Jawziyyah (w. 751/1350) dengan risalahnya, Hidayat al-Hayara fi Ajwibat al-Yahud wa an-Nashara. Generasi sesudahnya pun tak kalah hebat. Abdullah at-Tarjuman (ca. 823/1420) menulis Tuhfat al-Arib fi r-Radd ‘ala Ahli s-Shalib, manakala Abu’l-Fadhl al-Maliki as-Su‘udi (ca. 942/1535) menerbitkan al-Muntakhab al-Jalil min Takhjil man harrafa al-Injil. Perlu diingat bahawa abad ini adalah permulaan apa yang kemudian disebut sebagai Zaman Modern, di mana orang-orang Eropah (Sepanyol, Portugis, Inggeris dan Belanda) mulai berlayar keluar ke Asia, Afrika, dan Amerika dengan tujuan mencari mangsa. Di antara karya-karya polemik yang ditulis di zaman modern adalah kitab Izhar al-Haqq oleh Syaikh Rahmatullah (w. 1310/1891) dari India, kitab Muhadharah fi an-Nashraniyyah oleh Syaikh Muhammad Abu Zahrah (w. 1393/ 1973) dari Mesir, dan The Choice oleh Ahmed Deedat (w. 1426/2005).

Pertempuran dan Perang

Pola kedua adalah hubungan konfrontasi fisikal dan konflik bersenjata. Sejarah mencatat hal ini adakalanya sukar dielakkan. Musuh-musuh agama ada pada setiap zaman, aktif bergentayangan dan patah tumbuh hilang berganti. Serangkaian Perang Salib yang berlangsung sejak abad ke-11 hingga abad ke-13 Masehi, pembantaian massa dan pengusiran orang Islam secara besar-besaran dari Andalusia (jazirah Iberia yang sekarang menjadi Portugis dan Sepanyol) serta kolonisasi negeri-negeri Islam di seluruh dunia (Timur Tengah, Asia dan Afrika), semuanya adalah fakta keras yang menunjukkan bahawa konfrontasi fisikal dengan para kolonialis-imperialis dan misionaris memang tidak dapat dihindari. Pada bulan Mac tahun 1095 Kaisar Alexius I minta bantuan Sidang Gereja untuk menghadang pergerakan tentera Turki Usmani yang berhasil menguasai Anatolia dan berencana merebut Konstantinopel. Pope Urbanus II menulis surat kepada raja-raja Eropah supaya mengirim tentera dan sukarelawan perang dengan iming-iming syurga dan penghapusan dosa. Sekitar 40,000 orang berkumpul di Konstantinopel untuk memulai perjalanan panjang melawan pasukan Turki dan merebut Jerusalem dari tangan orang Islam. Setelah berhasil mengusai Antioch, Syria, tentara salib bergerak menuju Jerusalem. Tanpa perlawanan yang berarti, Baitulmuqaddis jatuh ke tangan mereka pada hari Jum’at, 5 Juli 1099. Ribuan orang Islam dan Yahudi dibantai. Kaum Muslim tidak serta merta menyerang Jerusalem, akan tetapi mengadakan perjanjian damai yang ditandatangani oleh Shalahudin al-Ayyubi dan Raja Baldwin IV, penguasa Jerusalem waktu itu. Peperangan baru meletus akibat ulah Reynald Chatillon, seorang pembesar Perancis yang sangat membenci Islam dan sengaja menyerang kafilah-kafilah Islam semasa perjanjian damai. Terjadilah Perang Hittin dan Acre yang dimenangkan oleh pasukan Islam. Wilayah Palestin dari Gaza hingga Jubayl berhasil dikuasai pada awal September 1187. Sebulan kemudian, tepatnya pada hari Juma‘at, 2 Oktober 1187, Sultan Shalahudin membebaskan Jerusalem dari tentera salib.

Jika hubungan antara Umat Islam dan penganut Kristian terlihat banyak diwarnai ketegangan dan konflik maka hal itu dikeranakan beberapa perkara. Pertama, agama Islam dan Kristian sama-sama berwatak misionaris-ekspansionis, dalam arti menghendaki pemeluknya supaya berdakwah kepada orang lain sehingga benturan kepentingan acapkali terjadi. Kedua, perang salib (crusades) selama beberapa abad meninggalkan seribu satu kesan yang sulit dilupakan. Ketiga, penjajahan dan penjarahan terhadap negeri-negeri orang Islam oleh bangsa-bangsa Kristian Eropah juga masih segar dalam ingatan. Lantas pada tataran intelektual-akademik, perang pemikiran semakin gencar dimainkan oleh para orientalis. Nah, semua faktor ini punya andil besar merusak keharmonian hubungan Islam-Kristian. Bahawa kedatangan bangsa-bangsa Eropah bukan sekadar untuk berdagang, akan tetapi bertujuan menjajah, menjarah dan menyiarkan agama Kristian (proselytizing) adalah fakta yang mustahil dibantah. Orang Inggeris memasukkan Kristian ke negeri-negeri jajahan mereka (India, Afrika, dan kepulauan Melanesia, sebagaimana orang Sepanyol mengkristiankan orang-orang Moro di kepulauan Philippines dan orang Belanda membaptis orang-orang di Jawa, Sumatra dan lain-lain. Siapakah yang mendirikan gereja di Jepun dan China kalau bukan orang-orang Eropah?

Sikap Toleran dan Menghargai

Adapun corak ketiga dari hubungan orang Islam dengan orang bukan Islam adalah toleransi penuh, hidup bersama dengan rukun dan damai (peaceful coexistence) bersama umat agama lain sebagaimana dipraktikkan selama berabad-abad sejak zaman Rasulullah di Madinah, di Baghdad dan di Andalusia serta negeri-negeri lain. Dalam konteks ini menarik kita semak kesimpulan Bernard Lewis, pakar sejarah dari Universiti Princeton:

“In considering the long record of Muslim rule over non-Muslims, a key question is that of perception and attitudes. How did Muslims view their dhimmi subjects? … One important point should be made right away. There is little sign of any deep-rooted emotional hostility directed against Jews-or for that matter any other group-such as the anti-Semitism of the Christian world. … On the whole, in contrast to Christian anti-Semitism, the Muslim attitude toward non-Muslims is one not of hate or fear or envy but simply contempt [for those who had been given the opportunity to accept the truth and who willfully chose to persist in their disbelief]”.      

Jadi, kaum Yahudi sendiri mengakui bahawa berabad-abad lamanya mereka hidup di bawah naungan orang Islam dalam keadaan selamat dan aman, sehingga mereka pun berpeluang membuat karya-karya yang menyumbang bagi kegemilangan tamadun Islam. Umat Islam tidak menunjukkan rasa kebencian atau permusuhan terhadap kaum Yahudi atas dasar etnik atau rasnya. Kaum Yahudi tidak ditindas, tidak diganasi dan tidak dirampas hak-haknya sebagai manusia. Mereka diberikan hak untuk hidup sesuai dengan ajaran agama dan bidang profesinya. Mereka hanya dikecam lantaran menolak kebenaran dan lebih memilih kafir daripada masuk Islam meski mereka sudah diberikan penjelasan dan kesempatan untuk itu. Beda halnya dengan pengalaman mereka hidup di bawah pemerintahan raja-raja Kristian di Eropah, di mana mereka dipandang dan diperlakukan dengan sangat buruk bahkan dihalau dari England pada tahun 1290, dari Perancis pada tahun 1391, dari Austria pada tahun 1421, kemudian dari Sepanyol dan Portugis pada tahun 1492. Di Russia dan sekitarnya kaum Yahudi sejak 1881 secara rutin menjadi mangsa kerusuhan alias pogrom, yang mencapai klimaksnya pada zaman Nazi Jerman di abad keduapuluh.

Pendekatan Dialog

Pola lainnya adalah dialog. Pola ini sebenarnya terbilang baru, sebab tidak satu ayat pun kita temukan dalam kitab suci al-Qur’an yang menganjurkan dialog. Sebagaimana telah diuraikan di atas, istilah dan gagasan dialog antara agama dicetuskan oleh Gereja Kristian karena dan untuk tujuan tertentu. Inilah sebabnya mengapa tokoh-tokoh Muslim kontemporer berselisih pendapat dalam soal ini. Mereka yang setuju dan melibatkan diri dalam dialog antara agama antara lain almarhum Profesor Isma‘il Raji al-Faruqi dan Profesor Mahmoud Ayoub, manakala almarhum Profesor Fazlur Rahman dan Profesor Naquib al-Attas termasuk yang tidak merestui dialog semacam itu. Mereka yang pro dialog kerap mengutarakan alasan berikut: dialog bertujuan mengenyahkan salah faham, prejudices, dan kebencian antara satu sama lain; dialog adalah upaya menjalin tali persahabatan dengan pemeluk agama lain, mengendurkan ketegangan, mendorong kerjasama, saling hormat dan saling mengerti. Semua ini penting dilakukan terutama oleh kaum Muslim yang hidup di negara-negara Barat sebagai kelompok minoritas agar tidak dibenci, dimusuhi, dan ditindas. Adapun mereka yang kontra dialog melihat aktivis dialog antara agama umumnya tidak menyedari bahawa dialog semacam itu secara halus menggiring mereka kepada kekeliruan, kompromisme, sinkretisme, relativisme dan pluralisme agama, sehingga terbentanglah jalan bagi pemurtadan (proselytization). Padahal, tokoh-tokoh Kristian sendiri ada yang menentang dialog antara agama karena alasan sederhana: andaikata semua agama itu benar, maka Gereja Vatikan sudah lama bubar!

Maka penting digaris bawahi bahawa dialog antara agama mengandung beberapa andaian dan harapan. Pertama, setiap peserta dikehendaki menganggap semua partisipan sama statusnya. Kedua, peserta dialog sejak awal beranggapan bahawa keyakinan agama lain belum tentu salah. Dengan kata lain, partisipan sadar atau tanpa sadar disuntikkan faham relativisme, bahawa semua agama boleh jadi benar. Ketiga, peserta dialog biasanya dimohon mengetepikan masalah-masalah pokok yang menjadi titik-sengketa, seraya mengedepankan masalah remeh-temeh yang mereka anggap sebagai titik-temu agama-agama. Apa yang ingin dicapai dari dialog? Selesai dialog diharapkan para peserta tidak hanya saling memahami tetapi juga ‘saling mengakui’ dan mahu meyakini kebenaran agama lain! Bagi orang Islam yang menyertai dialog semacam ini diharapkan supaya membuang jauh-jauh keyakinan kepada Islam sebagai satu-satunya agama yang benar. Pendek kata, dialog antara agama pada intinya akan menguntungkan misi Gereja untuk mengkristiankan dunia.

Kesimpulan

Fakta sejarah maupun bukti tekstual menunjukkan bahawa yang dilakukan Umat Islam sejak abad pertama Hijriah adalah satu dari atau kombinasi strategi-strategi berikut ini: (i) dakwah secara bijak, rasional dan persuasif (da‘wah bil hikmah wal maw‘izhah al-hasanah), yakni mengajak orang-orang Kristian untuk masuk Islam, kerana mereka yakin bahawa Islamlah agama yang benar. Berbeda dengan ‘dialog’ yang menganggap semua agama sama benarnya, ‘dakwah’ berangkat dari kesedaran penuh dan keyakinan kukuh sang juru dakwah bahawa agama selain Islam itu keliru dan sesat. Dakwah tidak bertolak dari relativisme atau pluralisme agama. Strategi kedua (ii) adalah debat secara santun dan tegas (jidal billati hiya ahsan), yakni menjawab argumentasi orang Kristian dalam berbagai forum dan media, menyanggah mereka dengan hujah-hujah yang logis rasional, secara lisan maupun tulisan. Jalan terakhir (iii) adalah aksi militer alias perang, apabila semua jalan tersebut di atas ditutup atau disekat, sesuai dengan petunjuk al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Adapun dialog antara agama seperti yang digagas dan dipraktikkan oleh kalangan tertentu belakangan ini tidak lain dan tidak bukan bertujuan menggeser posisi keyakinan kita supaya lebih atau makin dekat lagi kepada kekufuran. Apabila kita sudah mengakui dan meyakini bahawa agama-agama itu sama benar dan sama intinya, maka kemurtadan hanya tinggal selangkah. Wa min dzālika na‘ūdzu billāh!

Nota:

Makalah ini dibentangkan dalam Wacana Fahaman Pluralisme Agama dan Implikasinya Terhadap Masyarakat Islam, anjuran Pertubuhan Muafakat Sejahtera Masyarakat Malaysia (MUAFAKAT) pada 1 hb Mei 2010 bertempat Kuliyyah Ekonomi, Univeristi Islam Antarabangsa (UIAM).

*********

Dr. Syamsuddin Arif mendapat pendidikan di KMI Gontor 1989, Majlis Qurra’ wa-l Huffazh, Bone, Sulsel, Sarjana Mudanya dari Univeristi Islam Antarabangsa (UIAM) 1996, ijazah sarjana dari International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) Malaysia 1999, ijazah doktor falsafah juga dari ISTAC 2004 dan ijazah kedoktoran keduanya dari Orientalisches Seminar, Universitaet Frankfurt, Jerman.

Cactus-langgar halalSyukur Alhamdulillah. Atas kepekaan dan tindakan NGO-NGO Islam dengan isu-isu yang berlaku. Tahniah kepada PPIM yang telah mengerakkan gabungan NGO Islam untuk membuat laporan polis terhadap pengilang air mineral jenama “Cactus” yang telah jelas melanggar syarat pembel=rian status halal dengan meletakkan gambar dewa Hindu pada produk yang mereka katakana sebagai halal.

Syarat pemberian sijil halal bukan setakat bahan-bahannya mesti halal. Ianya juga termasuk proses pembuatan tetapi termasuk juga proses-proses lain dari mendapat bahan-bahan mentah hingga sampai kepada pengguna termasuklah label pada botol tersebut.

Syabas juga kepada JAKIM yang cepat mengeluarkan kenyataan dalam isu penting sebegini.

Ada hikmahnya.

Sekarang semua masyarakat sedar bahawa umat Islam (terutama NGO-NGO) tidak duduk diam dalam isu-isu yang membela umatnya.

Pengilang-pengilang yang mempunyai status halal mesti jaga kepekaan umat Islam dalam hal-hal sebegini dan jangan mengambil apa-apa kesempatan di atas pengguna-pengguna yang majoritinya orang Islam ini. Mereka mesti mengambil langkah proaktif untuk memahami lebih lagi tentang syarat-syarat memperolehi sijil halal serta menjaga kepatuhan pada syarat yang telah ditetapkan.

Bahagian penguatkuasa MESTI tegas dalam mengambil tindakan-tindakan yang melanggar syarat-syarat yang telah pun diberikan kepada pengilang yang degil.

Dan yang sangat penting ialah kes ini telah menjadi satu “precedent” untuk di masa-masa akan datang. Moga dengan berlakunya peristiwa ini tidak ada lagi pengilang atau pengusaha lain yang ingin mempermainkan pengguna-pengguna Islam. Kita mesti serlahkan kuasa kepenggunaan kita.

Baru-baru ini, seorang bekas menteri Melayu zaman Tun Dr Mahathir Mohamad jemput Kunta Kinte ke pejabat dia sebab ada seorang rabbi nak jumpa dia. Rabbi adalah ketua agama Yahudi. Lebih kurang macam tok imam kita. Jadi kita pun jumpa dan bincang satu dua hal macam perdamaian di Timur Tengah, rampasan tanah orang Palestin oleh peneroka Yahudi dan siapa dalangnya.

BH-evangelis kristianKita juga bincang kemungkinan orang Islam dan Yahudi kerjasama wujudkan piawaian halal/kosher di negara- negara Eropah Timur di mana orang Islam dan Yahudi adalah minoriti. Bekas menteri itu kata, walaupun Presiden Barack Obama bukan kulit putih tapi dia pun tak berapa berminat dan tak berjaya bawa keamanan kepada Timur Tengah, khususnya antara Israel dengan negara-negara Arab.

Rabbi dari California, Amerika Syarikat itu kata, yang tentukan sama ada Israel dan Palestin berperang atau berdamai bukan orang Islam atau Yahudi. Juga bukan Israel atau negara-negara Islam. Yang tentukan perang dan damai di Timur Tengah adalah Amerika.

Rabbi itu kata lagi, di Amerika pula yang tentukan terhadap isu Arab-Israel dan Timur Tengah bukan presiden atau Kerajaan Amerika tetapi pelobi-pelobi Kristian. Pelobi-pelobi Kristian, kata rabbi itu, jadi kuat dan ekstrem masa pemerintahan Presiden George W Bush. Bush rapat dengan kelompok Kristian yang dikenali sebagai Christian Right dan golongan yang dipanggil Neo-Conservatives atau Neo-Cons.

Apa yang ditakutkan

Christian Right atau disebut juga Religious Right sangat cergas dalam politik. Pendirian mereka terhadap isu-isu berkait Islam, Arab dan Palestin sangat keras. Bersama-sama dengan golongan Neo-Cons, mereka sokong dan desak Kerajaan Amerika guna kuasa tentera dalam krisis antarabangsa, khususnya yang babitkan dunia Islam.

Orang kita umumnya percaya Yahudi sangat berpengaruh ke atas dasar- dasar Amerika. Itu betul. Tapi yang gerakkan dasar pro-Israel adalah golongan Christian Right dan Neo-Cons. Kalau ikut logik, susah bagi orang Yahudi nak wujud dan pertahan negara Israel yang terletak di tengah-tengah dunia Arab kerana bilangan mereka tak ramai.

Ikut anggaran daripada badan amal Amerika, Carnegie Endowment for International Peace, pada tahun ini ada 2.01 bilion orang Kristian dan 2.08 bilion Islam. Bilangan orang Yahudi dianggarkan 13.9 juta orang saja pada tahun 2013. Inilah yang golongan Christian Right dan Neo-Con sangat takut – bilangan orang Islam mengatasi orang Kristian dan makin ramai orang Islam tinggal di negara-negara bangsa Eropah.

Balik kepada sejarah

Untuk lebih jelas mengenai peranan Christian Right dan Neo-Cons dalam isu Yahudi dan Israel, kita kena balik kepada sejarah. Mula-mula sekali, kita kena faham, iaitu bukan orang Yahudi yang wujudkan Israel.

Sebelum dan selepas Perang Dunia Kedua, orang Yahudi tak ada negara dan mereka bercempera di Eropah, Amerika Utara, Russia dan negara-negara Eropah Timur. Masa Perang Dunia Kedua mereka diseksa oleh Nazi Jerman. Masa itu, paling ramai orang Yahudi tinggal di Jerman. Yang sempat lari mereka cari perlindungan di United Kingdom (UK), Russia dan Amerika Utara. Lepas perang, dua kuasa besar Eropah – UK dan Perancis – bimbang orang Yahudi yang bercempera di negara mereka tuntut hak dan jadi lebih berpengaruh.

Salah satu cara atasi masalah itu ialah dengan hasut orang Yahudi berhijrah ke Palestin. Masa itu, UK dan Perancis kuasai sebahagian besar wilayah Arab yang dulunya milik Empayar Uthmaniyyah.

Hasil dasar dan tindakan British, Perancis serta Amerika itu lahirlah Israel sebagai negara Yahudi pada Mei 1948 walaupun ditentang keras oleh umat Islam. Asal usulnya bumi Israel adalah kawasan pelbagai kaum. Sehingga abad ketiga Masihi, majoriti penduduknya Yahudi. Selepas itu ia jadi wilayah Kristian. Daripada abad ketujuh sampailah pembentukan Israel, majoriti penduduknya Islam.

Hari ini, yang jamin kewujudan Israel adalah orang Kristian. Pada 14 Oktober lalu, seorang rabbi wanita Amerika bernama Jill Jacobs, menulis dalam surat khabar Washington Post mengatakan pembayar cukai Amerika adalah antara pihak yang bertanggungjawab membiayai pencerobohan Yahudi ke atas tanah dan harta milik orang Palestin di Tebing Barat.

Manakala penulis laman web Christian Science Monitor, Christa Case Bryant, pula dalam rencana 18 Disember 2012 berkata, gerakan Zionis semakin berpengaruh ke atas politik Amerika sejak 10 hingga 15 tahun dengan kerjasama Kristian Evangelis, khususnya dalam hal kepentingan Israel.

Konspirasi peringkat antarabangsa

Jadi dalam kita orang Islam bergaduh dan bertelagah sama sendiri, kita kena faham konspirasi yang sedang berlaku pada peringkat antarabangsa untuk terus laga-lagakan Islam dengan Yahudi hingga orang Islam terlupa atau terlepas pandang keadaan sebenar.

Cabaran terhadap umat Islam hari ini, termasuk di negara kita, adalah gerakan Kristian Evangelis, Neo-Cons dan golongan liberal. Mereka inilah yang menuntut pelbagai hak dan persamaan seperti penggunaan kalimah Allah, kebebasan seksual dan hak bersuara tanpa batasan.

Kalau orang Islam negara kita masih tak sedar dan bertelagah mengenai hal remeh macam sentuh anjing, jangan salahkan sesiapa kalau nasib mereka jadi macam nasib orang Palestin. Wallahuaklam.

sumber: Berita Harian

… tidak semestinya saya terima pandangan penulis 100% tetapi peranan neo-con dan right wing Christian evangelist itu betul – AKO

***************

Bacaan berkaitan isu-isu Kristianisasi:

 

Ingatkan saya …

... dalam pelbagai pertemuan dengan saudara-saudara sekalian, terutama selepas mana-mana sesi taklimat, kadang-kadang ada yang meminta sesuatu dari saya. Kerap kali dalam kesibukan serta kelemahan saya sendiri, ada ketika janji-janji tersebut terlupa saya tunaikan ... tolong ingatkan saya. PM di FB saya atau emel kepada saya akarimomar.wordpress.com/about

***

akarimomar Youtube Channel

Click here to go to my Youtube Channel:
http://www.youtube.com/akarimomar

Buku-buku Armies of God dan Sang Nila Utama & Lion of Judah MESTI DIBACA

Tulisan Mr. Iain Buchanan yang mendedahkan agenda Evangelis Kristian ...
Untuk tempahan dan pesanan.

Buku2 Iain - poster1

.

Bicara Promoter LGBT

Maulid Pelajar Tahfiz

Tembakan Bedil di Bukit Pak Apil

Klik untuk tonton

Buku-buku Karangan Awang Goneng: Growing Up in Trengganu + A Map of Trengganu

DAPATKAN NASKAH ANDA SEKARANG !!!
Klik imej:

.

PLACE YOUR ORDER NOW !!!
SMS: 019-3199788 (Karim)
email: akarimomar@yahoo.com

Bacaan Hizib

Archives

Effective Islamic Parenting

November 2014
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Taqwim Solat – Prayer Time

Al Masjid – Memakmurkan masjid

Sinopsis Kitab Fiqh Akbar

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 359 other followers

Tauhid