Indonesia merupakan tumpuan projek demokrasi’, kata Madeline Albright, Setiausaha Negara US, di The First World Forum on Democracy di Warsaw, pada 26 Jun 2000. Penaja utama Forum Demokrasi Warsaw adalah seorang Yahudi penyangak matawang, George Soros.

soros-gusdur

Dari kiri: Gus Dur, George Soros dan Yenny Wahid (anak Gus Dur)

Dalam Forum itu, Soros menjemput wakil Indonesia selain, Azyumardi Azra dan Jusuf Wanandi termasuk juga Bambang Harymurti, Editor in Chief, Mingguan Tempo, Indonesia. Soros juga menjemput wakil dari Malaysia iaitu Wan Azizah Wan Ismail, Adlin Zabri dan Elizabeth Wong. Foto sebelah ialah lawatan susulan Soros bertemu dengan Gus Dur dan Yenny Wahid (kanan) untuk memastikan kejayaan projek demokrasi Islam Indonesia.

[jangan lupa baca: Kenali Tokoh-tokoh LIBERAL Indonesia]

Dengan dana The Asia Foundation, Islam Liberal berjaya menyusup masuk ke dalam organisasi masyarakat Islam seperti Nahdatul Ulama (NU)Muhammadiyyah, Hidayatullah, Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al Azhar, dan sebagainya. Selain menyusup masuk, mereka juga membentuk organisasi seperti JIL (Jaringan Islam Liberal) dan Paramadina. Dengan cara ini mereka merosak Islam dari dalam dengan faham pluralisme, tafsir tematik/hermeunetika (mentafsirkan al Qur’an dengan pola pikir sekular), kesamarataan gender (jantina), filsafat serta aliran sufi yang bertentangan dengan Islam.

Tokoh Yahudi Paul Wolfowitz di belakang projek mendemokrasikan Islam Indonesia. Penggerak demokrasi/pluralisme Indonesia : Dari kiri, Bambang Harymurti, (Editor in Chief Mingguan Tempo Newsmagazine & wakil majalah TIME); Wimar Witoelar (pengamal media & jurucakap Gus Dur semasa jadi Presiden Indoensia) ; Yenny Wahid, (anak Gus Dur/Pengarah Wahid Institute); Paul Wolfowitz(Bekas Presiden Bank Dunia); Mari Pangestu (bekas Pengarah eksekutif Center for Strategic and International Studies – CSIS); Prof Dr M. Din Samsudin (Pengerusi Muhammadiyyah); Erry Riyana, (Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi-KPK); Abdul Aziz (Pusat Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama); Jusuf Wanandi (Pengarah Eksekutif Pusat Islam dan Pluralisma Antarabangsa Indonesia.

Tokoh Yahudi Paul Wolfowitz di belakang projek mendemokrasikan Islam Indonesia. Penggerak demokrasi/pluralisme Indonesia : Dari kiri, Bambang Harymurti, (Editor in Chief Mingguan Tempo Newsmagazine & wakil majalah TIME); Wimar Witoelar (pengamal media & jurucakap Gus Dur semasa jadi Presiden Indoensia) ; Yenny Wahid, (anak Gus Dur/Pengarah Wahid Institute); Paul Wolfowitz(Bekas Presiden Bank Dunia); Mari Pangestu (bekas Pengarah eksekutif Center for Strategic and International Studies – CSIS); Prof Dr M. Din Samsudin (Pengerusi Muhammadiyyah); Erry Riyana, (Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi-KPK); Abdul Aziz (Pusat Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama); Jusuf Wanandi (Pengarah Eksekutif Pusat Islam dan Pluralisma Antarabangsa Indonesia.

Musuh Islam berlabel Islam inilah mendaftar organisasi beserta dengan nama tokoh dan alamatnya yang sentiasa meminta bantuan dana (istilah Ulil Abshar Abdalla, Koordinator JIL: memohon proposal dana, dalam bahasa manis digunakan ungkapan ‘partner’ dalam kerjasama) kepada The Asia Foundation kerana kecemburuan terhadap kaum Muslimin terhadap ajaran Islam yang agung.

Serangan propaganda kekafiran, kemaksiatan bahkan memperlecehkan Islam mengalir deras tanpa dapat dibendung. Secara historis, memanglah wajar, mengingatkan per­se­teruan antara haq dan batil memang tidak pernah berakhir, hingga akhir zaman.

Namun, yang amat menggelisahkan adalah banyak kalangan Muslim yang masih setia menjadi penonton dari pertun­jukan kafir di depan matanya. Tidak sedikit pula kaum Muslimin yang secara tegas membantu menghina dan memperlecehkan ajaran Islam di hadapan orang-orang kafir! Hinaan dan perlecehan itu kadangkala diaplikasikan dalam bentuk tindakan yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti melakukan kekafiran, terkadang juga berupa ucapan yang secara sedar atau tidak sedar terhadap Islam! Yang paling parah lagi, apabila perkara itu dilakukan oleh orang yang memakai label Islam. Salah satunya adalah “majalah Syir’ah” yang dibiayai oleh The Asia Foundation (TAF).

Mendengar nama TAF, tentu sudah tidak hairan lagi di telinga kita, pastinya NGO yang ditaja itu bersenyawa dengan kelompok Liberalis yang bertopeng Islam. Sebab itu, hampir semua NGO yang ditaja oleh TAF, produknya sama, iaitu menggigit akidah Islam.

Kekacauan yang terbesar adalah penyebaran racun-racun pluralisme, liberalisme dan inklusivisme yang dipelopori oleh JIL dengan Komunitas Utan Kayunya, Paramadina dengan Fiqih Lintas Agamanya dan Musdah Mulia dengan Kompilasi Hukum Islamnya.

Liberal-SitiMusdah

Musdah Mulia, tokoh Islam Liberal Indonesia halalkan homoseksual & lesbian yang diharamkan Al Quran dan Sunnah

“Majalah Syir’ah”, namanya sangat bagus, bererti jalan yang terang, diambil dari Al-Qur`an surat Al-Ma`idah 48: Wa likullin ja’alna minkum syir’atan wa minhajan terjemah Indonesia : Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Motonya pun cukup bagus, Mengurai Fakta Menenggang (bertoleransi) Beda: Berangkat dari kesadaran akan perbedaan. Perbedaan sebagai ciptaan Allah yang abadi.

Bukan untuk berbeza pendapat, melainkan untuk berlumba-lumba untuk membuat kebajikan. Tetapi akhlaknya buruk tidak seindah moto­nya. Misinya kotor tak seterang nama­nya. Setiap edisi yang diterbitkan setiap bulan, selalunya ada racun yang ditebarkan kepada pembaca di negara Muslim terbesar di dunia ini. Topik racunnya pun berulang-ulang, yakni men’negatif’kan umat Islam, men’positif’kan Yahudi dan Nasrani, serta menghalalkan pemurtadan umat Islam. Ternyata Syir’ah tidak menghurai fakta bertoleransi perbezaan, tetapi menghurai fitnah bertoleransi pemurtadan.

Inilah NGO berdaftar beserta dengan nama tokoh dan alamatnya yang mendapat tajaan daripada The Asia Foundation:

1.Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Institut Studi Arus Informasi (ISAI), Ulil Abshar Abdalla dan Nong Mahmada, Jl. Utan Kayu 68-H Jakarta Timur.

2.Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Dr Djohan Effendi dan Ulil Abshar Abdalla, Jl. Percetakan Negara No. C-553, Jakarta Pusat.

3.Paramadina (Serangan Pluralisme Agama/Menyamakan Semua Agama), Kautsar Azhari Noer, Jl TB Simatupang Pondok Indah Plaza III F5/7 Jakarta .

4. Majalah Syir’ah, Alamsyah M Dja’far, Jl Asembaris Raya M Kavling 8 Kebon Baru Tebet, Jakarta Selatan.

5.Lembaga Buruh, Tani dan Nelayan (LBTN), PP Muhammadiyah, Moeslim Abdurrahman, Jl. Menteng Raya 62 Jakarta Pusat.

6. Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP), Pramono U Tantowi dan Rizal, PP Muhammadiyah, Jl. Menteng Raya 62 Jakarta Pusat.

7. Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM), Munawar, Hendrik dan Denden (Retas), Kantor PP Muhammadiyah, Jl. Menteng Raya 62 Jakarta Pusat.

8.Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (LP3-UMY), Said Tuhuleley, Budi dan Asykuri Chamim, Gedung AR Fachruddin Kampus UMY, Jl. Lingkar Selatan Tamantirto Kasihan, Yogyakarta.

9. Lembaga Penelitian Universitas Muham­madiyah Surakarta (UMS), Gustin, Jl. A Yani, Pabelan, Surakarta, Jawa Tengah.

10. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Aceh, Afdhal Jihad, Jl KH A Dahlan, Banda Aceh.

11. Pemuda Muhammadiyah (PM) Aceh, A Malik Musa, Jl. KHA Dahlan, Banda Aceh.

12. Fatayat Nahdatul Ulama (NU), Dra Maria Ulfah Anshor, Marhamah dan Iin, Gedung PBNU Jl Kramat Raya 164 Jakarta Pusat.

13. Lakpesdam NU, Masykur Maskub, Imdadun Rahmat dan Taswan, Jl. H. Ramli No 29A Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan.

14. Puan Amal Hayati (Urusan Gender), Sinta Nuriya (isteri Gus Dur), Jl. Warung Silah No. 30 RT 02/05 Kompleks Masjid Al-Munawwarah, Ciganjur, Jakarta .

15. Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Masdar F Mas’udi, Jl. Cililitan Kecil III/12, Kramat Jati, Jakarta Timur.

16. Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Yogyakarta, Najib, Tompeyan TR III/133 Yogyakarta .

17. Pusat Studi Antar Komunitas (PUSAKA) Padang , Sudarto, Jl Purus I No. 8A Padang, Sumatera Barat.

18. Gender Team for Ministry of Religious Affairs (GT-MORA), Dra Siti Musdah Mulia, Departemen Agama RI, Jl. Lapangan Banteng No 4-6 Jakarta Pusat.

19. Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ), Dra Siti Musdah Mulia, Jl Matraman Masjid I.A Jakarta Selatan.

20.Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Dr Masykuri Abdillah dan Hakim Jamil, Jl Ir H Juanda 95 Ciputat.

21. Pusat Studi Wanita (PSW) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Rosatria, Jl Ir H Juanda 95 Ciputat.

22. Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah (urusan gender), Dr Amsal Bachtiar, Jl Ir H Juanda 95 Ciputat.

23. Desantara, Drs Bisri Effendi, Jl. Raya Citayam 35 Depok.

24. DPP Korps Perempuan Majelis Dakwah Islam (MDI) (Bidang Garapan tentang Gender), Hj Juniwati T Maschjun Sofwan dan Nilmayetti, Jl Anggrek Nelly Murni 11A, Slipi Jakarta Barat.

25. Indonesian Center for Islam and Pluralism (ICIP), Syafii Anwar dan Syafiq Hasyim, Jl Hang Lekiu I No. 09 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

26. Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin, Nurcholish Madjid, Jl Gatot Subroto IV/Kemiri NO 102 Banjarmasin Kalsel.

27. Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LkiS), Amiruddin, M JadulMaula, Fikri dan Luth, Sorowajan Baru, Jl Pura No 1 Yogyakarta.

28. Lembaga Kajian Pengembangan Masyarakat dan Pesantren (LKPMP) Makassar, Azhar Arsyad, Jl Faisal Raya No 22 Blok 22B Makassar .

29. Lembaga Studi Aksi untuk Demokrasi (LS-ADI), Anick, Jl Ir H Juanda Gg Swadaya Rt 01/08 Pisangan, Ciputat.

30. Rahima (Urusan Gender), Syafiq Hasyim, Jl Pancoran Timur IIA No 10 Pasar Minggu Jakarta Selatan, dan masih banyak lagi.

(Sumber: Jejak Tokoh Islam dalam Kristenisasi, Hartono Ahmad Jaiz, Darul Falah Jakarta, Cet. I, Julai 2004, hlm.158-164).

NOTA: sumber dipetik dari: http://www.zawiyahsam.com/ (dead link)

MESTI BACA: Kenali Tokoh-tokoh LIBERAL Indonesia