You are currently browsing the monthly archive for December 2011.

Bre-ad issue hits newspapers

sumber berita: The Star

PETALING JAYA: An online campaign against a bread company has prompted two companies to take up newspaper advertisements to clarify the issue.

While Gardenia Bakeries (KL) Sdn Bhd took up an ad to deny that it is a “crony company”, FFM Bhd, which makes a rival product, has claimed that it was not behind the “boycott Gardenia” campaign.

FFM’s management stressed that the company had not endorsed any write-up which urged consumers to refrain from buying its competitor’s products.

“There are articles circulating in various media that have urged consumers to prefer our product against that of our competitor.

“FFM wishes to distance itself from these articles and would like to stress that we are in no way responsible for these articles nor do we endorse the articles nor the attendant publicity,” FFM Bhd said in a full-page advertisement yesterday.

It also noted that the company had always believed that businesses should be allowed to operate in a fair and equitable manner that permitted free enterprise and competition.

“We have been fortunate to be able to compete in a market that shares these values,” said FFM.

An online campaign surfaced last month against Gardenia Bakeries, accusing it of being a “crony company”. The anti-Gardenia campaign also called on consumers to support rival bread company Massimo, owned by FFM.

In its advertisement, Gardenia Bakeries said it was a “myth” that it was a crony company.

“We proudly have Bernas as our bumiputra partner since 2001 in accordance with the Industrial Coordination Act. We take pride in this fact and even display this for all visitors to our factories to see.”

Gardenia Bakeries said that it purchased flour from Malayan Flour Mills Bhd and Prestasi Flour Mills (M) Sdn Bhd purely due to commercial reasons, adding that although Bernas had a stake in another flour mill, it had never been directed or coerced into buying flour from the mill.

“This speaks volume on the professionalism of the Bernas management,” the advertisement said.

The company stressed that it had never failed to make fresh products that were delivered daily, come rain or shine.

“This commitment and achievement is the envy of everyone, our competitors included.”

“This envy has resulted in the circulation of many malicious rumours and falsehood. However, underhanded tactics with racial and political overtones have been used. We all should not be a party to this exploitation and manipulation,” it said.


BETHLEHEM, West Bank — The annual cleaning of one of Christianity’s holiest churches deteriorated into a brawl between rival clergy Wednesday, as dozens of monks feuding over sacred space at the Church of the Nativity battled each other with brooms until police intervened.

Armenian and Greek Orthodox clergymen scuffle inside the Church of Nativity. Photo: AAP

The ancient church, built over the traditional site of Jesus’ birth in Bethlehem, is shared by three Christian denominations – Roman Catholics, Armenians and Greek Orthodox. Wednesday’s fight erupted between Greek and Armenian clergy, with both sides accusing each other of encroaching on parts of the church to which they lay claim.

The monks were tidying up the church ahead of Orthodox Christmas celebrations in early January, following celebrations by Western Christians on Dec. 25. The fight erupted between monks along the border of their respective areas. Some shouted and hurled brooms.

Palestinian security forces rushed in to break up the melee, and no serious injuries were reported. A Palestinian police spokesman would not immediately comment.

A fragile status quo governs relations among the denominations at the ancient church, and to repair or clean a part of the structure is to own it, according to accepted practice. That means that letting other sects clean part of the church could allow one to gain ground at another’s expense. Similar fights have taken place during the same late-December cleaning effort in the past.

Tensions between rival clergy at the church have been a fact of life there for centuries and have often been caught up in international politics.

In the 1800s, friction between the denominations at the church – each backed by foreign powers – became so fraught that Russian Czar Nicholas I deployed troops along the Danube to threaten a Turkish sultan who had been favoring the Catholics over the Orthodox.

Those disagreements threaten the integrity of the church itself, which was originally built 1,500 years ago and parts of which have fallen into disrepair. Although the roof has needed urgent work for decades, and leaking rainwater has ruined much of the priceless artwork inside, a renovation has been delayed all these years by disagreements among the denominations over who would pay.

Only recently, the Palestinian Authority brokered an agreement to move ahead with replacing the roof, and officials hope work will begin in 2012.


بسم الله الرحمن الرحيم

نحمده ونصلى على رسوله الكريم




(Untuk diskusi PISWI 22-11-11 di Hotel Angkasa KL)

1. Yang akan dibincangkan dalam kertas ini ialah secara ringkasnya keterbukaan ideologi masakini, termasuk antaranya pascamodernisme, apa ‘ajaran’nya, apa itu zaman keterbukaan ideologi itu, apa cabaran-cabarannya, dan bagaimana jalan ke hadapan boleh dirancang dan dilalui dengan jayanya bagi wanita-wanita Islam mengikut suluhan cahaya agamanya dan budayanya yang terbentuk dalam acuan agama; dengan itu ia hidup sebagai wanita yang menyedari dirinya dan membentuk kemampuan dirinya sebagai para Muslimah dalam negaranya dan mengadakan hubungan secara bijak dan lestari dengan pihak lain dalam zaman globalisasi ini.

2. Kalau hendaki disebut ideologi-ideologi dalam erti yang am, maka boleh disebut bagaimana keadaan sekarang negara sedang berada dalam zaman mengamalkan demokrasi dengan menggabungkannya dengan beberapa cara sendiri dalam berkongsi kuasa dengan beberapa pihak dalam negara ini. Dan hasilnya menunjukkan, dengan izin Ilahi, ada beberapa kejayaan yang boleh disebut dalam rangka kita bersyukur kepada Tuhan atas niamatNya, juga bersyukur kepada pihak pimpinan negara yang menjadi wasilah atas kejayaan itu; kita dituntut dalam hadith bahawa kalau kita tidak bersyukur kepada sesama manusia kita tidak sempurna bersyukur kepada Tuhan. Ini disebut untuk mengingatkan jiwa kita sendiri yang kadang-kadang kalau terganggu dan niamat datang melalui orang yang kita tidak suka, kita nafikan perkara itu. Ini menjerumuskan kita ke dalam bahaya kerohanian yang berat. Dijauhkan Allah. Maka kita bersyukur kepada Allah dan kepada pihak pimpinan negara dan orang lain juga  yang menjadi ‘jalan masuk’ niamat Tuhan kepada kita.

3. Selain daripada kita berada dalam demokrasi cara kita sendiri, dengan kita mendapat kejayaan, yang diakui oleh orang dalam negara dan luar negara juga, kita boleh ingatkan bagaimana kita dalam zaman keterbukaan ideologi ini boleh dibuai oleh bermacam-macam budaya dan ideologi lagi, yang walaupun tidak muncul seperti yang disebut itu, ialah budaya dan ideologi anti-establishment dan anti tradisi kita sendiri.

4. Ini disebut sebagai ideologi anti-establishment (yang berlawanan dan bertentangan bentuknya dengan dasar ‘al-din al-nasihat’ dalam ajaran Ahli Sunnah wal-Jamaah, ini mesti disebut) yang diperhatikan berkembang dengan cara yang tidak serasi dengan kepentingan negara dan budaya kita sendiri. Antaranya keterbukaan ideologi yang menyebabkan ada pihak-pihak yang hendak mempromosikan, misalnya Seksualiti Merdeka atas nama hak-hak manusia sejagat sebagai ideologi yang unggul; dan sikap yang kelihatan ialah bila pihak berotoriti dalam negara (dalam istilah Islam ia ulil-amri) menyuarakan larangan maka kadang-kadang larangan itu tidak dihiraukan seolah-olahnya kedudukan ulil-amri itu tidak berfungsi dari segi agama Islam. (Di sini kita berbicara atas panduan Islam). Hakikatnya yang sebenar, dari segi intelektuil dan rohani (mengikut panduan Ahli Sunnah, dan ditekankan dengan benar oleh Yang Teramat Mulia Tengku Raja Nazrin) bahawa ulil-amri itu masih ada keabsahannya, dan umat Islam wajib diberi peringatan bahawa aturan dengan ulil-amri masih absah dan terpakai, walaupun kadang-kadang kita agak kabur tentang bagaimana caranya hendaki ‘selaraskan’ apa yang dicanangkan sekarang tentang nilai budaya luar tentang hak manusia sejagat (hak Tuhan tidak disebut oleh mereka, sebab dalam ideologi mereka ‘Tuhan sudah mati’ atau mereka kata ‘Kami bunuh Tuhan’ –la haula wa la quwwatana illa billahil-aliyyil-azim). Bagi kita kalau disebut hak asasi manusia, maka kita perlu peringatkan bahawa kita ada Deklarasi Kaherah tentang hak-hak manusia yang tidak menolak ‘hak Tuhan’.

5. Maka dalam keterbukaan ideologi sekarang timbul isu Seksualiti Merdeka itu; bagi kita dalam negara ini kita perlu memperjuangkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip, janganlah kerana ketaksuban kepada golongan minoriti yang vokal, kita korbankan nilai-nilai majoriti dan negara kita, pada akhirnya kita menjadi mangsa pilihan salah kita sendiri; kita perlu mempunyai kemampuan intelektuil dan budaya melihat nilai-nilai yang dicanangkan oleh mana-mana pihak dalam konteks prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang serasi dengan kita, sebab negara ini negara kita, orang dari luar tidak berada di sini, dan yang menentukan budaya dan nilai-nilai adalah kita di sini. Maka kita perlu mengajak semua orang kita di negara ini bermuafakat dan hidup dengan harmonis dan jangan membawa orang luar masuk hingga mengganggu kestabilan nilai-nilai dan prinsip-prinsip hidup kita, seperti dalam soal Seksualiti Merdeka yang dicanangkan itu. Tidak ada agama yang patut mendapat nama agama yang akan menerima Seksualiti Merdeka itu. Prinsip-prinsip dan nilai-nilai dalam tamadun Timur semuanya perlu digarap untuk menepis mana-mana gangguan atas nilai-nilai dan budaya kita yang dikongsi bersama berdasarkan nilai-nilai unggul sarwajagat itu. Ini menyentuh perkara-perkara seperti soal akhlak kita, pergaulan kita, hiburan kita, hubungan kita antara ahli keluarga, hubungan dalam masyarakat, dan hubungan antara orang ramai, rakyat dan ulil-amri, pihak yang berkuasa. Budaya ‘anti-establishment’ tidak ada dasar kerohanian dan falsafah di kalangan kita yang boleh membenarkannya. Lihatlah keruntuhan kerajaan Rom bila budaya ini berkembang sebagaimana yang dilaporkan dalam ‘The Decline and Fall of the Roman Empire’ oleh Gibbon dan juga isu demikian disebut oleh Arnold Toynbee dalam jilid 5 bukunya ‘A Study of History’. Dan dalam Islam, dalam ajaran Ahli Sunnah yang berdasarkan Quran, Hadith, Ijma’ dan Kias mereka yang muktabar tidak membenarkan sikap yang demikian.

6. Bila menyebut suasana kita dalam amalan demokrasi kita juga perlu menyebut tentang bahaya amalan hidup ‘conspicuous consumerist culture’ yang timbul dari kapitalisme liberal baru yang menyebabkan kesan buruk berlaku atas masyarakat kita; manusia ramai yang membeli dan menggunakan barang-barang bukan kerana keperluan tetapi kerana hendak menunjuk-nunjuk kepada orang dengan penuh kebanggaan tentang gaya hidupnya. Ini menjadi seperti sejenis berhala fesyen baru yang ‘disembah’ oleh ramai orang dengan tidak disedari oleh mereka. Orang ramai seolah-olah terkena sihir oleh gaya baru ini –dan ini boleh membawa malapetaka. Dijauhkan Allah. Kesedaran tentang nilai dan prinsip hidup berhemat perlu dicanangkan kepada masyarakat kita, supaya kita semua mengamalkan ‘gaya hidup lestari’ (sustainable way of life, sustainable life-style) sebab kalaulah semua orang menggunakan bahan-bahan dalam kehidupan dengan cara yang tidak lestari, tidak ‘sustainable’ berapa lama bumi dan alam boleh menanggung gaya hidup kita yang membinasakan itu?

7. Selain daripada yang disebutkan di atas itu kita boleh menyebut sedikit dengan cara yang agak serius tentang pascamodernisme, falsafahnya dan zamannya. Berkenaan dengan pascamodernisme secara ringkasnya untuk kepentingan kita dalam diskusi ini ialah elemen-elemen fahaman ini yang asasinya sebagai berikut. Ia menyentuh persoalan tentang pandangannya berkenaan dengan falsafah tentang ilmu pengetahuan dan kedudukan manusia sebagai wanita yang ada dalam Islam. Untuk tidak terlalu berlarutan dengan perbincangan tentang falsafah pengetahuan yang terlalu lanjut dan tidak sesuai dengan kepentingan di sini, kita boleh melihat takrif ‘postmodernism’ yang tepat dan ‘sober’ dalam Oxford Dictionary of Philosophy sebagai berikut (ertinya):

a. “Dalam budaya amnya pascamodernisme dikaitkan dengan penerimaan stail atas sesuatu yang penuh dengan sikap bermain-main, mengikut apa yang ada atas permukaannya, sedar tentang sedang menukil pendapat diri sendiri, dengan parody (meniru-niru secara mengejek), dan merayakan apa yang ironis, yang sementara, dan ‘glitzy’ (penuh glamour dengan kedangkalan). Ia biasa dilihat sebagai reaksi menentang sikap naïf dan bersungguh-sungguh percaya kepada kemajuan, dan tidak menyetujui yakin diri terhadap kebenaran yang objektif dan saintifik. Oleh itu dalam falsafah ia bermakna sikap tidak percaya kepada wacana-wacana agung kemodenan: sikap mengesahkan secara besar-besaran [masih ada sekarang] terhadap masyarakat Barat dan keyakinan (confidence) dalam kemajuannya yang kelihatan dalam pemikiran Kant, Hegel, atau Marx, atau [falsafah] yang timbul daripada pandangan yang bersifat utopia tentang kesempurnaan yang dicapai melalui evolusi, perbaikan kemasyarakatan, pendidikan, ataupun penggunaan sains. Dalam aspek-aspek pascastrukturalis [dalam kajian dan falsafah tentang bahasa] ia termasuk penafian terhadap mana-mana makna yang tetap, atau persamaan/sepakatnya antara bahasa dan alam dunia, atau mana hakikat sebenar yang tetap atau kebenaran atau fakta yang menjadi objek penyelidikan.”

b. “Kecenderungan [yang demikian] dirasai terlebih dahulu, dan mungkin dilafazkan secara gemilang sekali oleh Nietzsche, yang falsafahnya tentang perspektivisme dilihat sebagai satu teknik falsafah untuk menghapuskan sangkaan tentang mungkin adanya pengetahuan yang objektif. Sifat objektiviti sesuatu itu ditunjukkan sebagai helah untuk mendapat kekuasaan atau autoriti dalam pusat pengajian, dan kerapkali sebagai kota pertahanan yang terakhir bagi keistimewaan orang lelaki kulit putih. Mantik atau pemikiran secara rasional dijelaskan sebagai pemaksaan fahaman tentang serba dua yang berpecah yang disyaki, dalam arus peristiwa yang berlaku. Golongan pascamodernis berbeza pendapat tentang natijah-natijah yang timbul daripada pertemuan-pertemuan demikian, dengan berkongsi sikap tidak percaya yang lama itu (sceptic) tentang bagaimana hendak berfikir dan bertindak mengikut suluhan cahaya ajaran. Manakala sikap membuang objektiviti nampaknya pada setengah pihak jalan membawa ke arah memberi kebebasan berbentuk radikalisme dalam politik, pada pihak lain ia kelihatan sebagai membenarkan pandangan-pandangan yang tidak membebaskan (unliberating) seperti menolak bahawa di sana itu ada peristiwa (yang secara objektifnya) seperti Perang Dunia II atau peristiwa Holocaust , dan pada pihak lain lagi seperti buku Rorty (Contingency, Irony, and Solidarity, 1989), ia membenarkan sikap  mengundurkan diri masuk ke alam aesthetis, apa yang ironis, yang tidak terkait dengan mana-mana pihak (detached), dan penuh bermain-main (playful) dengan kepercayaan diri sendiri, dan dalam hubungan peristiwa-peristiwa yang terus mara berlaku. Sikap undur diri sedemikian dikritik sebagai perbuatan tidak bertanggungjawab dari segi kemasyarakatannya (dan dalam kesimpulannya tersangat konservatif). Bentuk minda pascamodernisme, yang ditentukan arahnya, misalnya dalam buku The Postmodern Condition atau Keadaan Pascamodern, 1984 oleh Jean-Francois Lyotard (1924- ) mungkin kelihatan sebagai sikap orang berani yang menolak sahaja kejayaan sains dalam menjana perbaikan hidup manusia, satu sikap membesar-besarkan sesuatu dengan berlebihan tentang mengaku penuh dengan salahnya mana-mana usaha untuk mencapai ilmu dalam disiplin-disiplin yang membaikkan manusia (humane disciplines), dan tidak mempedulikan kebenaran yang biasa difahami manakala sejarah manusia dan undang-undang mengakui tidak ada gambaran yang terakhir (dalam ilmu), mereka mengakui tentunya tentang adanya [dalam ilmu] apa-apa yang berlebih kurang memang benar tepat, (sebagaimana) ada pula berlebih kurangnya, peta-peta yang tepat.”[1] 

8. Takrif demikian, yang memang bermanfaat digunakan untuk perbincangan kita, boleh membantu kita menangkap unsur-unsur yang mewakilinya dalam aliran ini. Antaranya unsur-unsur: stail yang penuh dengan sikap bermain-main, menukil pendapat diri sendiri, menggunakan unsur parody (meniru-meniru secara mengejek-ngejek), gembira dengan unsur ironis (sikap menyebut pandangan yang lain untuk merendah-rendahkannya), memberi penekanan kepada yang bersifat sementara, yang bersifat glamour yang melampau, sebagai reaksi terhadap konsep kemajuan yang berasaskan kepada sains dan ilmu yang objektif, oleh itu menolak wacana-wacana agung (termasuk agama, Tuhan, wahyu dan yang sepertinya), menolak evolusi ke arah keadaan yang maju dan lebih baik (dulunya sangat berpengaruh di Barat), sikap menolak hakikat yang sebenar, menolak tentang adanya ilmu yang objektif yang boleh dicapai, ertinya semuanya boleh jadi benar atau boleh jadi salah, demikian seterusnya. Ini mempunyai kesan terhadap tentang ilmu, bahasa, diri manusia, kehidupan, akhlak dan moral serta budaya dan seni.

9. Dan yang berkaitan dengan pengaruh falsafah sedemikian ialah feminisme, apa itu feminisme? Dalam Oxford Encyclopedia of Philosophy ia adalah: pendekatan terhadap hidup kemasyarakatan, falsafah dan etika yang mempunyai pendirian untuk memperbetulkan prasangka-prasangka berat sebelah yang membawa wanita berkedudukan di bawah lelaki (subordination) ataupun sikap mengurang-ngurangkan pengalaman wanita yang khusus bagi mereka. Golongan feminis semasa sensitif tentang prasangka gender (sikap berat sebelah kerana gender) yang mungkin ada secara isyarat terkandung dalam teori-teori falsafah (misalnya senarai sifat-sifat keutamaan yang unggul (virtues) mungkin secara tipikal adalah kelakian (manly) ataupun secara budayanya ‘kelakian’), dan dalam struktur-struktur kemasyarakatan, prosedur-prosedur undang-undang dan politik, dan budaya amnya. Satu dakwaan yang penuh kontroversi (secara berpengaruhnya dibuat oleh Carol Gilligan In a Different Voice. Psychological Theory and Women’s Development [‘Dalam Suara Yang Berbeza. Teori Psikologi dan Pembangunan Wanita], 1982) ialah bahawa para wanita mendekati proses berfikir praktikal berlainan sudut pandangnya daripada lelaki. Perbezaan itu termasuk ke dalamnya penekanan atas komuniti, sifat pengasihan, dan bersifat mengikat (bonding) dengan orang-orang perseorangan tertentu, ganti bagi sikap abstrak yang tidak memihak kepada mana-mana pihak (abstract impartiality). Adalah perkara penuh kontroversi sama ada ini perbezaan yang real, dan kalau demikian adakah ia timbul daripada perbezaan-perbezaan yang asal dalaman (innate) dalam jiwa lelaki dan wanita, atau adakah perbezaan nilai-nilai itu membayangkan cara para lelaki dan wanita diajar untuk membentuk cita-cita dan ideal-ideal yang berlainan.  Manakala etika feminis kerap ditumpukan kepada masalah-masalah yang khususnya dihadapi wanita, dengan ide-ide di sebaliknya mungkin atau mungkin tidak terkait dengan masalah-masalah praktikal, ataupun hubungan secara ‘bermusuh’ berhubungan dengan lelaki dan pandangan-pandangan yang pessimis tentang seks yang menjadi sifat terkenal pada gerakan itu.

Ia juga digambarkan dari segi falsafahnya demikian.

10.   Fahaman falsafah tentang pengetahuan feminis bertanya sama ada cara-cara mengetahui yang berlainan, misalnya dengan kriteria yang berlainan untuk mengesahkannya, dan penekanan yang berlainan tentang logik dan imaginasi, yang merupakan ciri lelaki dan wanita dalam memahami dunia [dan kehidupan]. Soalan-soalan sedemikian termasuk kesedaran tentang wajah-diri ‘kelakian’ (masculine), itu berubah dari segi kemasyarakatannya, dan secara potensi memberi gambaran yang salah tentang bagaimana sepatutnya fikiran dan perbuatan itu berlaku. Yang menjadi target khusus bagi falsafah pengetahuan feminis ialah konsep Immanuel Kant dan zaman Pencerahan berkenaan dengan kerasionalan (rationality) yang dilihat sebagai satu senjata untuk mendakwa diri menjadi tuan dan mengontrol [wanita], dan sikap tidak mahu mengakui sudut-sudut pandangan yang berlainan dan hubungan-hubungan yang berlainan dalam kehidupan dan dengan alam tabie. Walaupun dakwaan-dakwaan berlebihan yang ekstrem dibuat, seperti bahawa logik adalah bersifat seperti ‘phallus’ dan alat patriarchal untuk menundukkan pihak lain, adalah masih belum jelas sama ada kelainan-kelainan antara keupayaan individu-individu dan latihan sama diambil kira seperti gender dalam memberi huraian tentang bagaimana cara orang mencapai pengetahuan. Dan lagi, ada terdapat sederetan masalah, daripada masalah yang terlalu amat bersifat sebagai teori sampai kepada masalah yang secara bandingannya bersifat praktikal. Dalam bidang yang kemudian ini perhatian khusus diberi kepada asas-asas institiusi yang menghalang peluang-peluang yang sama [antara wanita dan lelaki] dalam bidang sains dan lain-lain bidang akademik, ataupun ideologi-ideologi yang menghalang wanita melihat diri mereka sebagai penyumbang-penyumbang yang utama dalam pelbagai disiplin pengetahuan. Bagaimanapun, bagi para feminis yang lebih radikal masalah-masalah sedemikian hanya menunjukkan para wanita menghendaki untuk diri mereka kuasa-kuasa dan hak-hak atas pihak lain yang orang lelaki dakwakan bagi mereka, dan bila gagal mendepani masalah-masalah yang real iaitu bagaimana hidup tanpa kekuasaan-kekuasaan dan hak-hak yang tidak seimbang demikian.[2]

11. Demikianlah antaranya elemen-elemen yang terkandung dalam istilah pascamodernisme dan aliran falsafah feminisme yang timbul dalam rangka pengaruh pemikiran yang sedemikian. Berhubungan dengan itu kita boleh melihat bagaimana aliran yang sedemikian ini menimbulkan kesannya dalam masyarakat Barat, antaranya sebagaimana yang dibicarakan oleh seorang daripada pengarang feminis yang berpengaruh iaitu Germaine Greer dalam tulisan-tulisannya, antaranya seperti The Whole Woman[3] dan The Female Eunuch.[4]

12. Dalam dua buah buku tersebut pengarang ini menunjukkan sikapnya dalam memperjuangkan feminism yang dipengaruhi oleh pascamodernisme, bermula dengan perjuangan tentang kesetaraan gender dalam erti yang simplistik kemudiannya terpaksa menerima hakikat yang berlainan sekali daripada apa yang diperjuangkan mula-mulanya.

13. Sebagaimana yang diberikan perhatian secara halus dan mendalam oleh Shaikh Abdal Hakam Murad dalam esseinya yang penting ‘Boys Will be Boys’[5] kesan-kesan daripada pembebasan wanita dengan hidup seksnya yang diperjuangkan oleh golongan feminis yang terpengaruh dengan falsafah yang merombak nilai-nilai pengetahuan yang mengajar ketetapan nilai-nilai dan pengetahuan dari aliran modernisme adalah bahawa wanita mengalami keadaan lebih parah daripada lelaki.

Antaranya ialah seperti berikut:

a. Dalam bukunya The Whole Woman sebagai kesan daripada falsafah kebebasan dalam pemikiran tentang seks dan amalannya dicatitkan bahawa selepas daripada diperjuangkan kedudukan wanita berpuluh-puluh tahun mendepani keadaan mereka yang dirugikan dalam pendidikan, pekerjaan, kedudukan dan pangkat, kebosanan dengan memasak, membersih dan menjaga anak-anak, mereka yang lemah, yang meletihkan, demikian seterusnya, akhirnya mereka (golongan feminis) dikatakan sebagai berjaya. Walaupun dikatakan mereka ‘berjaya’ dinyatakan bahawa mereka lebih berat keadaannya dan mereka mengalami kesukaran. Katanya ‘Kehidupan para wanita bukannya menjadi lebih senang tetapi lebih sukar, hidup mereka nampaknya lebih baik, tetapi lebih sulit’ (hal. 184). Disebutkan bahawa semenjak tahun 1955 ada terdapat lima kali ganda penyakit murung di Amerika Syarikat, 6% daripada penduduknya diandaikan mengalami kemurungan (depression) bila mereka berumur dua puluh empat tahun; wanita lebih teruk menderita daripada lelaki; tahun itu 17% wanita British akan cuba membunuh diri sebelum mereka berumur dua puluh lima tahun (hal. 181). Setengah daripada kemurungan itu timbul daripada masalah-masalah seperti hilang pekerjaan, kematian ahli keluarga, perceraian, ditolak oleh pasangan atau keluarga, termasuk juga kerana rendah ‘esteem’ diri; satu jenis kemurungan lagi ialah kerana ‘genes’, atau kerana naik turunnya kimia badan sendiri serotonin atau estrogen; wanita dua kali ganda teruknya kerana penyakit sedemikian. (hal. 182). Disebutkan juga tentang tahun lima pululan (1950an) keluarga berangkai terhapus, tetapi gantinya tidak ada. Dan ini menimbulkan masalah. (hal, 184).

b. Berkenaan dengan pengalaman mereka dalam tentera, bila mereka diterima di dalamnya kerana kejayaan gerakan feminis, dalam masa berlakunya Perang Teluk, bila kapal Acadia meninggalkan pelabuhannya di San Diego untuk pergi ke Timur Tengah, 360 orang wanita merupakan sekitar satu perempat daripada penumpangnya, pada masa ia pulang tiga puluh enam daripada wanita itu dihantar pulang kerana mengandung.  Yang lelakinya tidak ada yang dihantar pulang. (hal. 178). Dinyatakan bahawa wanita Amerika yang berkhidmat dalam Perang Teluk berada dalam bahaya yang lebih besar diganggu dari segi seksual oleh tentera Amerika sendiri daripada diganggu secara seksual oleh tentera musuh (kata Senator Dennis DeConcini) (hal. 179).  Dalam tahun 1996 penyelidikan mendapati bahawa lebih daripada tiga puluh orang rekrut tentera wanita di Maryland dirogol atau diganggu, demikian seterusnya; ini adalah ‘kesan’ daripada pembebasan seks yang nampaknya yang dibebaskan adalah seksualiti lelaki; yang menderitanya wanita. (hal. 179).  Dalam tentera di Britain juga berlaku gangguan seksual walaupun ke atas tentera wanita yang berpangkat tinggi. (hal. 180).

c. Kesan kebebasan seksual juga mempunyai kesan buruk atas peranan keibuan; wanita tidak mahu menjadi ibu; dalam tahun 1971 satu daripada dua belas keluarga British diketua oleh seorang ketua keluarga, dalam tahun 1986 satu dalam tujuh, pada tahun 1992 satu dalam lima. Ibu merupakan 91% daripada ketua keluarga yang demikian, bukan lelaki, kebanyakan daripada mereka menjadi demikian kerana perceraian atau kematian. 35% dari mereka itu tidak pernah berkahwin, 10% dari kalangan mereka berumur di bawah dua puluh tahun. Satu daripada tiga orang yang dilahirkan di England dan Wales sekarang berlaku di luar nikah. Dalam awal tahun 1990an timbul kebimbangan yang amat sangat tentang ramai para wanita muda mengandung; terdapat cerita-cerita yang membimbangkan tentang wanita-wanita demikian dengan anak haram mereka. Keadaan menjadi buruk sehingga timbul pendapat Evelyn Shaw dan Joan Darling ‘…para wanita [dengan perangai mereka yang sedang berlaku] menguatkan mitos bahawa biologi adalah destini dan golongan wanita dari spesis kita adalah satunya golongan yang memelihara dan menjaga anak-anak’ (hal. 213).

d. Tentang keluarga dengan seorang ketua ini, yang kebanyakannya wanita, dinyatakan bahawa pada tahun 2020 sepertiga daripada semua keluarga British akan dihuni oleh seorang individu sahaja; dan yang paling ramai di kalangan mereka adalah wanita. Daripada 3.8 milion wanita British berumur tiga puluhan hampir-hampir sejuta hidup seorang atau diceraikan. Pejabat Statistik Nasional Britain menganggarkan bahawa seperempat daripada semua wanita akan hidup seorang dalam tahun 2020. (hal. 261).

e. Dan tentang perkahwinan pula dinyatakan ‘Unfortunately some of the briefest marriages are those that follow a long period of cohabitation’ (Sayangnya setengah daripada perkahwinan yang paling tidak lama bertahannya ialah perkahwinan yang berlaku selepas lama bersekedudukan) (hal. 266). Ini menjadi bahan renungan bagi mereka yang berpegang kepada dasar ‘testing the waters’ (menguji dahulu sebelum bertindak). Ini semua diperhatikan kerana ia datang daripada pejuang feminisme dan kebebasan hidup seksual hasil daripada pemikiran secara pascamodernisme tentang pengetahuan dan moral serta kehidupan seks.

f. Tentang pornografi, yang menjadi sebahagian yang terlibat dalam pembebasan seksual ini, Germaine Greer membuat kenyataan yang menarik dan tepat. Katanya: “Pornografi ialah perbuatan melarikan diri daripada wanita (flight from women), penafian lelaki terhadap seks sebagai satu cara komunikasi, penafian mereka terhadap seks sebagai asas satu hubungan, penolakan mereka terhadap kebapaan, keadaan mereka dalam keremajaan yang mengikut nafsu seks yang berterusan. Yang menjadi mangsa pornografi adalah lelaki bukan wanita…’ (hal. 191). Dan dalam pornografi berlaku penghinaan terhadap wanita yang menjadi objek keseronokan seksual dan kepuasan nafsu seks.

g. Tentang perkahwinan pula, menarik juga Greer membuat kenyataan bahawa ‘…orang lelaki memerlukan perkahwinan lebih daripada wanita. Seorang lelaki yang tidak ada isteri adalah rapuh dirinya (‘fragile’), penjara-penjara penuh dengan lelaki yang tidak pernah berkahwin. Orang lelaki yang tidak berkahwin lebih berkemungkinan mati dalam keadaan ganas dan kejam (violently). Orang-orang lelaki yang berkahwin mendapat markah yang tinggi dari segi kepuasan dan kesejahteraan jiwa (psychological wellbeing) …” (hal. 266).

14. Antara kegagalan-kegagalan usaha pihak yang terpengaruh dengan aliran kesetaraan gender ini, selain daripada di atas, disebut oleh Abdal Hakam Murad dalam artikelnya ‘Boys will be Boys’ ialah: bagaimana wanita-wanita menjadi ‘hamba’ dalam industri kecantikan, dan industri fesyen dengan kesan-kesan atas peribadi wanita, wanita menjadi ‘hamba’ kepada industri ‘pharmaceutical’ dengan alat-alat solekan yang menelan belanja yang terlalu banyak, dengan terapi hormon, wanita mengambil ‘prozac’ kerana kemurungan, itu ubat yang sama diberi kepada haiwan-haiwan dalam zoo untuk menenangkan mereka dalam keadaan terkurung itu, kegagalan dalam usaha untuk membuktikan ketahanan fisikal dengan data-data dari pihak tentera Barat, kegagalan percubaan kibbutzim di Israel untuk membuktikan kesetaraan gender dalam semua segi, akhirnya wanita dengan sifat-sifatnya dan lelaki dengan sifat-sifatnya yang mesti diambil kira dalam perkembangan masyarakat dan budaya, termasuk bidang ilmiah dengan kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan keadaan diri masing-masing.

15. Sebagaimana yang boleh diperhatikan bahawa apa yang berlaku dan berkembang adalah berupa cabaran-cabaran terhadap wanita Islam yang berdepan dengan fenomena demikian (dengan tidak melupai kesan-kesan amalan tentang kelonggaran nilai-nilai moral dan kekeluargaan yang kelihatan dalam negara kita sendiri sebagaimana yang dilapor dalam media). Secara ringkasnya cabaran-cabaran itu adalah seperti berikut:

a. Cabaran terhadap jati diri wanita sebagaimana yang diajarkan dalam Islam: wanita sebagai individu Muslimah yang wajib menjaga dirinya-agamanya, akalnya, jiwanya, nyawanya, badannya, keluarganya, zuriat keturunannya. Ia berdepan dengan falsafah dan amalan yang menafikan kebenaran agama, ajaran rohaniah, akhlak, dan sosial sebagaimana yang ada dalam Islam, termasuk terutamanya ajaran tentang hidup kekeluargaan. Cabaran ini memerlukan usaha yang tepat dan berkesan untuk menimbulkan fahaman dan keyakinan yang kental yang mampu memberi kekuatan kepada para wanita dengan jati diri yang teguh.

b. Cabaran dalam hidup dirinya – ia berdepan dengan ajaran dan amalan yang memberi kebebasan seksual yang merosakkan agamanya, moralnya, maruah dirinya, fitrahnya, dan mendatangkan azab dalam alam yang kekal abadi.

c. Ia berdepan dengan falsafah yang mengajarkan kesetaraan dengan lelaki sehingga tidak timbul lagi konsep ketaatan kepada suami (bila ia berkahwin), ketaatan kepada kedua ibu bapa (bila belum berkahwin). Ini kerana ajaran baru falsafah pascamodernisme dan feminisme yang menolak kebenaran-kebenaran daripada wahyu dan kenabian, dan apa yang timbul daripadanya, kerana itu semua wacana agung yang mesti ditolak. Ia berdepan dengan konsep dan ajaran yang tidak mementingkan maruah sebagaimana yang diajarkan dalam Quran (sebagaimana yang jelas dalam kisah Siti Maryam bonda ‘Isa a.s. bila ia diingatkan tentang keluarganya yang baik, ibu dan bapanya bukan orang-orang yang rosak akhlaknya) dalam ayat:

ما كان أبوك امراسوء وما كانت أمك بغيا

yang bermaksud:

Ayahmu bukanlah sekali-kali seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang penzina [maka mengapakah kamu demikian ini membawa bayi tetapi tidak berkahwin?] (Surah Maryam: 28).

d. Ia berdepan dengan ajaran dan amalan yang memberi kebebasan yang akan menimbulkan penderitaan dan kerosakan atas dirinya dan masyarakat. Termasuk ke dalamnya ia berdepan dengan budaya selebriti yang mesti digantikan dengan budaya ‘uswatun hasanah’ dari Quran dan sunnah dan sirah dengan cara yang meyakinkan, juga budaya kepenggunaan untuk menunjuk-nunjuk (conspicuous consumerism) dengan budaya kepenggunaan yang berhemat dan bijaksana, mengikut ajaran Nabi salla’Llahu ‘alaihi wa sallam dengan kefahaman yang tepat dan penuh keyakinan. Mereka yang tersasul perlu diberi perlindungan dan khidmat nasihat yang menyelamatkan.

e. Dalam Islam terdapat ketaatan yang bertertib, mulai daripada ketaatan kepada Tuhan, rasul, ibu bapa, yang muda kepada yang tua. Pelanggaran ketaatan itu membawa kepada: kekufuran (kalau paling berat), kemaksiatan, atau kurang keutamaan. Dalam ajaran dan amalan yang dipengaruhi oleh pascamodernisme dan feminisme itu semua tidak ada. Yang ada adalah penegasan tentang hak diri dan kesetaraan gender dan kebebasan (kebebasan mendapat keseronokan seksual, dengan bangga, kebebasan daripada tunduk kepada suami, sebenarnya penghormatan dan ketaatan bertempat, ia sepatutnya berupa keharmonian gender, bukan kesetaraannya, pada tahap paling dalam ia hubungan antara jalal dan jamal, yang lelaki jalal, kehebatan, yang perempuan jamal, keindahan, gabungan antara keduanya membawa lepada kesempurnaan; bahkan pada paras yang paling dalam alam ini menunjukkan jalal dan jamal).

f. Ini terbayang dalam hidup keluarga sebagaimana nyang diajarkan dalam Qur’an:

ومن أياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا اليها وجعل بينكم مودة ورحمة

Yang bermaksud:

Dan antara ayat-ayatNya ialah Ia menjadikan dari diri kamu pasangan-pasangan kamu supaya kamu hidup dengan mereka dengan tenang dan puas, dan Ia jadikan antara kamu [dalam hubungan antara kamu dalam keluarga] kasih sayang dan kasihan belas’ (Surah al-Rum: 21)

g. Ia berdepan dengan tugas mengasuh anak dan menjaga suami supaya hidup mengikut prinsip-prinsip dan nilai-nilai Quran dan Sunnah dengan penuh yakin, supaya ajaran dan amalan ini diteruskan oleh generasi seterusnya di kalangan umat Islam. Dan kalau dia orang yang mempunyai profesi ia tidak mengabaikan tugas-tugas itu selain daripada ia melaksanakan profesinya.

h. Ia berdepan dengan cabaran menjaga keluarga, yang merupakan institusi yang rabbani, bukan hanya ciptaan manusia kerana kebetulan kepentingan kebendaan dan keselamatan. Ia adalah berupa perintah yang dimulakan ke atas lelaki, dan wanita yang berikutnya. Perintahnya ialah:

يا أيها الذين امنوا قوا أنفسكم وأهليكم نارا

yang bermaksud: Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kamu dan ahli keluargamu daripada api neraka (Surah Tahrim:6).

Maka keluarga adalah pusat pendidikan agama yang menyelamatkan manusia daripada neraka.

i. Dan wanita dalam keluarga pula sebagaimana yang ada dalam hadith bahawa ia adalah ‘pemimpin’ dalam keluarganya (هى راعية فى بيت زوجها وهى مسؤولة فى رعيتها): Dia pemimpin (pengembala) dalam rumah suaminya dan ia akan ditanya tentang jagaannya ke atas mereka di bawah tanggungannya. (hadith sahih dari riwayat Bukhari dan Muslim). Dan dalam dalam hadith yang lain maka yang menentukan bahawa anak yang lahir dalam fitrah itu tidak menjadi Nasrani, Yahudi atau Majusi ialah keluarganya (كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه ) (Sahih al-Bukhari)

j. Ia berdepan dengan cara berfikir yang kehilangan mizan yang berupa keseimbangan semesta yang menjamin kesejahteraan sistem kehidupan dunia dan manusia anak Adam ini. Ia terkandung dalam ayat-ayat Surah al-Rahman yang bermaksud: Tuhan Yang Maha melimpah Kasihan BelasNya, Yang telah mengajarkan Qur’an, Dia menciptakan manusia, Mengajar kepadanya kemampuan berbicara, Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan, dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepadaNya, Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan Neraca [keadilan semesta], supaya kamu  jangan melampau batas Neraca itu, dan tegakkanlah timbangan itu dan jangan kamu kurangi [dalam menurut] neraca itu (Ar-Rahman: 1-9). Maka menurut Neraca semesta itu adalah tugas manusia, yakni kembali kepada Neraca dalam Islam dan konsep fitrah yang berjalan dalam Neraca Semesta ciptaan Tuhan. Kesedaran tentang hidup dalam mizan semesta dan fitrah ini perlu berikan dengan penuh yakin oleh semua pihak, mulai daripada keluarga, sekolah, masjid dan masyarakat setempat, supaya ia mampu memberi kekuatan yang sebenarnya kepada para wanita untuk menangkis unsur-unsur yang negatif dalam budaya masakini kesan daripada pengaruh falsafah yang tersasul itu.

16. Keluarga dalam Islam satu institusi Rabbani, dinyatakan dalam Quran dan sunnah, dengan peranannya dan fungsinya dari alam dunia sehingga ke alam abadi. (Ayat yang menyebut doa orang mukmin memohon pasangan-pasangan dan zuriat keturunan yang ‘menyejukkan mata’ (dan hati), serta doa para malaikat hamalatul-arsy supaya mereka masuk syurga bersama-sama mereka yang soleh dari bapa-bapa, nenek moyang dan zuriat keturunan mereka. Dan doa kepada ibu bapa yang termasuk ke dalam erti ‘berbuat baik kepada kedua ibu bapa’.

17. Doa-doa itu maksudnya seperti berikut: Wahai Tuhan kami, kurniakanlah kepada kami pada pasangan-pasangan dan zuriat kami mereka yang menyejukkan mata [dan hati] dan jadikanlah kami contoh tauladan bagi mereka yang bertaqwa (al-Furqan:74), Dan dalam Surah al-Mu’min ayat 7-9 bermaksud ‘(Malaikat-malaikat) yang menanggung ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepadaNya serta memohon ampun untuk orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): Wahai Tuhan kami, rahmat dan Ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampun kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau, dan peliharalah mereka dari seksa Neraka yang bernyala-nyala. Wahai Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam Syurga Jannatu Adnin yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang soleh di antara bapa-bapa mereka, dan isteri-isteri mereka, dan zuriat keturunan mereka, sesungguhnya Engkaulah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan, dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya Engkau anugerahkan rahmat kepadanya, dan itulah kemenangan yang (amat) besar’. Hubungan kekeluargaan ditunjukkan bukan hanya berlaku di dunia tetapi sehingga ke alam abadi. Alangkah bahagianya manusia yang mempunyai keluarga yang membawanya sehingga tercapai kebahagiaan yang kekal abadi yang tidak terdaya bahasa manusiawi melafazkan kepuasaan dan kebahagiaannya. Allahumma’rzuqna amin. Adakah kita hendak membiarkan pascamodernisme dan feminisme dari Barat menghancurkan janji-janji dan jalan-jalan kesejahteraan ini dan kita tidak hendak memeliharanya? Adakah kita hanya terpesona dengan janji-janji feminisme Barat yang antaranya Greer sendiri dan orang-orang yang sepertinya mengakui ia gagal membahagiakan dan menyelamatkan manusia?

18. Feminisme Barat tidak sesuai dibawa ke sini kerana: ia berasal daripada sejarah budaya Barat yang berhubung dengan konsep wanita sebagai ‘jahat’ dalam Bible, dengan tanggapan tentang seks sebagai negatif ‘I was born in sin …’ dan ‘I was conceived in sin’ , wanita dianggap sebagai Iblis , dengan undang-undang Barat yang membuat diskriminasi terhadap wanita, yang semuanya tidak ada dalam Islam, wanita dan lelaki menjadi ‘one flesh’ , ajaran Katholik yang menganggap wanita unggul tidak berkahwin, demikian seterusnya.

19. Di Barat ajaran feminisme menganggap agama sebagai penghalang kemajuan dan kesejahteraan –dalam Islam agama memberi impetus kepada kemajuan dan kesejahteraan wanita dan kehidupan.

20. Ideal kewanitaan Islam yang ada dalam Quran dan hadith Nabi saw dan tokoh-tokoh unggulnya, itu adalah ideal yang wanita zaman ini perlu kembali kepadanya dengan yakin.

21. Yang menjadi masalah sekarang, bagi wanita Islam, bukan Islam dan tradisinya (kecuali apa-apa yang bercanggah dengan ajaran Islam yang menjadi budaya di setengah-setengah kawasan seperti ‘honour killing’ –orang membunuh ahli keluarga dengan sengaja kerana menjaga maruah seperti dalam kes ada anak perempuan yang terlibat dalam cinta terlarang). Atau budaya meminggir wanita sehingga terganggu perkembangan peribadinya untuk menjadi manusia yang berpengetahuan, beradab, bertamadun, berketerampilan dan seterusnya. Maka yang menjadi masalah ialah masuknya cara-cara berfikir dan ideologi yang bercanggah dengan Islam, prinsip-prinsip dan nilai-nilainya, juga adanya gambaran-gambaran tidak benar tentang Islam oleh musuh-musuhnya dan orang-orang Islam sendiri yang memberi gambaran yang tidak benar itu

22. Cara berjuang untuk wanita sekarang ialah dengan membela kepentingannya dan hak-haknya termasuk tugas dan peranannya secara menyeluruh dengan juga melihat kepada pihak-pihak lelaki dan lainnya dalam masyarakat bukan hanya memberi kepentingan wanita sahaja sehingga terabai bahagian-bahagian lain; dan hak-hak itu pula hendaklah dilihat dari kaca mata Islam yang menyeluruh bukan sebahagian-sebahagian sahaja – misalnya perlu diketahui hukum tentang hubungannya dengan ibu bapanya dan suaminya dan ahli masyarakat lainnya dan seterusnya, dan bukannya melihatnya dalam konteks ajaran pascamodernisme feminis dari Barat yang membahayakan dirinya dan masyarakatnya. Kepentingan masyarakat hendaklah dilihat dari semua segi: peribadi, kekeluargaan, masyarakat, ekonomi, pendidikan, budaya, seni dan seterusnya.

23. Antara perkara-perkara yang membantu dalam meneruskan jalan kita ke hadapan ialah:

a. Mengenali Islam-prinsip-nilai-nilai – sejarah-ilmu-dan keyakinan di dalamnya;

b. Mengenali masakini -nilai-nilai, prinsip-prinsip masakini- membentuk yakin diri dalam Islam, berhubungan dengan masakini itu, nilai-nilai, prinsip-prinsipnya, norma-normanya, sejarahnya

c. Membuat rangkaian dalam masyarakat untuk membela prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang diyakini, termasuk rangkaian dengan pihak-pihak yang mempunyai sistem kepercayaan lain dalam rangka dialog peradaban, dalam mendepani aliran-aliran pemikiran dari Barat yang perlu dicernakan dengan baik, dengan cara yang cermat dan berkesan, oleh orang-orang yang boleh diharapkan boleh menangani aspek ini dengan baik, demi perkembangan hidup wanita dan kemajuannya yang mensejahterakan dalam negara ini dan umat. Amin.

d. Memberi jawapan kepada pemikiran-pemikiran dan ideologi-ideologi yang menyerang prinsip-prinsip Islam dan norma-normanya.

Wallahu a’lam.


Asalnya ini naskah kertaskerja yang dibentangkan dalam seminar IKIM dengan judul ‘Wanita Dalam Era Cabaran Era Pascamodernisme’ beberapa bulan lalu, dan di sini dibentangkan kembali dengan beberapa tambahan dan penyesuaian mengikut keperluan yang diisyaratkan oleh pihak penganjur malam ini.


Bibliografi ringkas:

  • Mats Alvesson, Postmodernism and Social Research, Open University Press, Buckingham-Philadelphia, 2002.
  • Bridges Books, Tudung Beyond Face Value, by Terence Nunis@Saif Uddeen Farlis, Ustaz Abdul Aziz Mohammad and others, dengan foreward oleh Assoc. Prof. Dr. Hussin Mutalib, Director-General, Centre for Contemporary Islamic Studies, Singapore, 2002,
  • Germaine Greer, The Female Eunuch, Farrar, Straus and Giroux, New York,2001.
  • –, The Whole Woman, Anchor Books, New York, 2000.
  • Jacques Derrida, Of Grammatology, tr.Inggeris oleh Gayatri Chakravorty Spivak, The Johns Hopkins University Prsee, Baltimore dean London,  1976
  • Lois Lamya’ al Faruqi, Dr., Artikel: Islamic Traditions And The Feminist Movement: Confrontation Or Cooperation? (dalam (Diakses 15-April 2011)
  • Muhammad Uthman El-Muhammady, Pscamodernisme dan Islam: Satu pandangan Awal, Monograf 3, Akademi Kajian Ketamadunan, Kompleks Darul Hikmah, Kajang 2004.
  • Shaikh ‘Abdal Hakam Murad, “Boys will be Boys” dalam (diakses 17-4-11).
  • Islam, Irigaray, and the retrieval of gender (April 1999), ( (diakses 17-4-11
  • Simon Blackburn, Oxford Encyclopedia of Philosophy, artikel ‘feminism’ dan ‘postmodernism’  , Oxford University Press, Oxford., 1996.
  • Stanford Encyclopedia of Philosophy on line, artikel ‘postmodernism’, ‘feminism’ dan tajuk-tajuk yang berkaitan.
  • Ibid., postmodernism–epistemology dan lain-lainnya (diakses 17-4-11).
  • Foucault, The Archæology of Knowledge -Chapter 1-The Unities of Discourse-Source: The Archaeology of Knowledge (1969), publ. Routledge, 1972. The First 3 Chapters of main body of work are reproduced here.



Ban on niqab:

France Niqab ban ‘blatant attack on Islam,” says UK journalist


London: France’s enforcement of a ban on women wearing a face veil is akin to “the politics of the Nazis,” says British journalist and broadcaster Yvonne Ridley.

“This is a blatant attack on Islam from an Islamaphobic state run by opportunist politicians, who are trying to win cheap votes at the cost of a minority group of women,” said Ridley, who is also European President of the International Muslim Women’s Union.

“The veil is a symbol of piety and who would punish a woman for her piety? Certainly no one if she was a Roman Catholic Nun but it seems in secular France it is open season on Muslims,” she told IRNA.

Political commentators have also linked this week’s introduction of the law with French President Nicolas Sarkozy being accused of stigmatising Muslims to win over the far-right vote and counter the rise of the Front National at a time when his poll ratings are at record low ahead of next year’s presidential election.

Ridley also criticised attempt to justify the niqab ban with the so-called terrorist threat as “nonsense” and referred back to the campaign against men with a beard, saying there was “not one beard among the 19 hijackers who wreaked death and destruction on America on September 11 2001.”

“Criminals who are intent on committing crimes would not dress in such a manner – when did you last hear of women wearing niqabs holding up a bank or being involved in armed robberies or mugging old ladies?” she said.

The British journalist expressed concern about the state intervention of what can and cannot be worn, saying “a woman’s wardrobe is no place for a man regardless of who he is or how he prays.”

“When the state starts dictating what women can and cannot wear then we are entering uncharted waters. Where will it end? It also gives the Islamaphobes and racists another stick with which to beat Muslims,” she said.

In her interview with IRNA, Ridley also spoke about a current attempt in Britain to pass legislation to ban the face veil by way of a Private Member’s Bill, which is due to get its second reading by the end of the year….

[1] Dalam Oxford Encyclopedia of Philosophy,  artikel ‘postmodernism’, hal.  294-295.

[2] Dari Oxford Encyclopedia of Philosophy, artikel ‘feminism’, oleh Simon Blackburn, Oxford University Press, Oxford., 1996, hal.137-138

[3] Anchor Books,New York, 2000

[4] Farrar, Strauss andGiroux,New York, 1970,1971.

Sekadar meneliti siapa yang beragendakan penjajahan abad baru. Ini suatu tulisan yang membongkarkan dana-dana yang mencurah di Malaysiakini yang disebut oleh penulis Tony Yew sebagai Follow the money part 2.

Sayugia kita berwaspada kerana “pejajahan era baru” mencari helah untuk mengabui agenda besar mereka.

Bacalah seterusnya:

“It’s easy to invest in MDLF’s work, providing independent news businesses with the financing they need to hold governments to account, expose corruption and fight for justice for all.”

“Founded in 1995, MDLF is a New York-registered not-for-profit corporation with 501(c)(3) public charity status”

These two statements probably stands out the most in the MDLF website. Yet, it also claims to have returned millions in payment to investors.

In Malaysia, where MDLF claims there is no alternative ‘dissenting voices’ and that Independent news portals like Malaysiakini are ” Then, as now, the government tightly restricted newspapers, TV and radio resulting in self-censorship and very little dissent. Malaysiakini took advantage of laws that protect free speech online and used it to provide a whole new world of objective news and opinion. As the sole independent news source in the country….”

“Whatever method you choose, you can be sure that you will be helping leading journalists in emerging democracies develop financially sustainable news businesses, free from government control and political interference.”

So, with such ‘noble’ intentions, MDLF basically goes to a country listed on its scroll of “Media oppressed nations” and then dish out a million or two to these potential ‘voice of freedom’.

And all this seemingly not expecting any returns (don’t forget MDLF runs as Non-Profit organisation with Charity status).

In Singapore, TOC (The Online Citizen, I am sure would love to get some help from MDLF, but unfortunately due to legislation, any funding for an organisation deemed, I stand corrected, Political Association, is prohibited, and at best restricted to SGD5000, whilst it also must adhere to transparency laws by naming their staff and editorial personnel on their website) is an ‘alternative’ news site, and has recorded many hits.

I have met Leong Sze Hian of TOC, and must say that he has done his best to ensure that TOC does not open itself to government actions by following the rules set down for them (eventhough the goal posts keep changing). I am not 100% certain, but I could not find fabricated articles such as these on TOC.

So is is true then that there are angels (or demons, whichever side of the fence you are on) out there with millions to dish out just to give a dissenting voice to a Media Oppressed nation like Malaysia an alternative choice? Surely, it all points to that with MDLF, right?

Lets look back a little and chart the points where coincidental might just be intentional.

1999 – South East Asia Press Alliance provides a US100,000 Grant to (someone was sacked in 1998, and more importantly a certain financial crisis hit the region and caused the Ringgit to lose significant value against the US Dollar, among others)

2001 – MDLF through CAMP (Technology arm of MDLF) PAID Malaysiakini RM188,000.00 for the development of an application. (Premesh Chandran in a statement in Mar 2001, revealed that CAMP – Centre for Advanced Media, Prague, paid for the development of ADENGINE – Prem also refuted claims that the funds from CAMP or MDLF had in fact originated from George Soro’s Open Society Institute)

2002 – MDLF invetsed a further RM1.3 Million in


Having established their intentions, perhaps we should take a look at MDLF
Their deep pockets are because the following are the current source for funds;
Association of Alternative Newsweeklies
Bank Vontobel
Calvert Social Investment Foundation
DOEN Foundation
Dreilinden gGmbH
Foundation for Democracy and Media
Fritt Ord Foundation
John D. and Catherine T. MacArthur Foundation
Omidyar Network
Open Society Institute
Oxfam Novib
responsAbility Ventures I
Swedish International Development Cooperation Agency (Sida)
Swiss Agency for Development and Cooperation
Alexej Fulmek
David Haas

Didn’t Premesh Chandran say that none of its funding was received from George Soros?
I have nothing against George Soros, but he was responsible for the 1998 currency crisis.
So, not only did he devalue our currency but he also gave money to Malaysiakini though another fund?

This is where you don’t have to be a genius to see where the line crosses and what it tells you.

A simple look at the board of Directors also point to a very telling sign.
Two members of the board are the current President and Executive Director of, you guessed it, Open Society Institute.

A closer look at the past members reveal a former General Counsel to Open Society Institute. In his homepage he is listed as “After several years at HRW, he combined his expertise in tax law, including not-for-profit and financial transactions law, and became the first General Counsel to the Open Society Institute, George Soros’ worldwide charitable foundation. In 1996 he joined the faculty of the Washington College of Law, American University, in Washington D.C., where he remains today”

My reading into this statement and the role of certain members of the board tells me something very different from what Premesh Chandran said.

I got in touch with the man who was accused of misinterpreting the revelation of Malaysiakini’s funding. He is Desi YL Chong (Chong Yen Loong). Desi as he is fondly known to journalist was then News Editor of Malaysiakini, and questioned the essence of the breaking news.

The source of funding of Malaysiakini was first carried in Far Eastern Economic Review, in its article ‘ Levelling the field’ in which it (also read herehere and here) pointed how George Soros was ‘helping’ independent media establish a foothold in Asian countries.

The storm that followed was concern enough that Open Society Institute issued a statement that clarified that it was not involved in direct funding of Malaysiakini. In the statement issued to then Managing Editor of FEER, Michael Vatikiotis, OSI had reiterated that it did not fund Malaysiakini directly or indirectly. It mentioned that it did however provided a stipend grant for an ‘advisor’ of the Committee to Protect Journalist that was with SEAPA. It ended with a statement that ‘no funding whatsoever has been extended from OSI through SEAPA to Malaysiakini’.

None indirectly? I wonder how it classifies funding to MDLF, which in turned provided much needed funds to Malaysiakini.

Desi, when asked about the entire episode, had wanted to know what my story was about, and when I pointed out to him that I merely wanted to state the obvious, in which Malaysiakini had indeed receive funds from abroad, he was adamant that if I should quote him, that this would appear.

“when I insisted that Malaysiakini practised clear and transparent reporting as it had demanded, the source of funding must be clarified after Far Eastern Economic Review’s story. However, one of my boss said that the funding was not classified as funding as it involved the ‘purchase’ of application that Malaysiakini was building. Back then when the currency crisis was in full blown, George Soros did not have many friends, and when it was later revealed that his Open Society had provided funds to MDLF, which in turn channeled money to Malaysiakini, that to me demands an explanation.”

And when demanded in a closed door meeting, Desi was given the reply that “if we were to go public, that would be the death of Malaysiakini”. In the aftermath, Desi was told that the only way for him to go forward was to leave Malaysiakini. He did agree to resign, but before submitting his letter of resignation, Prem Chandran had said that Desi had chose to ignore certain facts and his resignation was due to the fact that he (Desi) was unhappy over matters pertaining his pay package.

So, is it purely coincidental then that names such as SEAPA, OSI, MDLF should cross each other in the source of funding or is there more that meets the eye?

In 1998, the currency crisis was in full swing, along with that in the same year a certain high profile politician was removed from cabinet. In the years that followed, a certain ‘Independent news organisation’ was revealed to have received big sums of money from a charity organisation with Investors!!??

So is it purely coincidental that Malaysiakini’s media school should feature such personnel?

Malaysiakini has pride itself as an independent news source, but judging from its history and source of funding, it is anything but that.

So, have you noticed that your new media lecturer holds dear to an organisation such as Malaysiakini, enough to write this? (given that Malaysiakini is a subscription based portal, funny that only such articles appear to be accessible,huh?)

They say the proof is in the pudding, I guess for those who truly believe Malaysiakini is independent, then please ignore the fact that the founder of MDLF said this.

Sorry, but who gave Malaysiakini RM1.58million again?

portal MKini-TMI bela evangelis

Baca juga:

Rakyat telah menzahirkan kemarahan dan kebencian. Bantahan terhadap tekanan dan kesengsaraan disuarakan dengan akhirnya Hosni Mubarak dijatuhkan.

Kerajaan peralihan sudah dilantik dan melaksanakan pilihanraya terbuka pertama sejak Mubarak dijatuhkan.

Rakyat telah membuat pilihan mereka dengan sebebasnya buat pertama kali untuk sekian lama dipendam.

”]Apakah ianya telah sampai masanya untuk rakyat jelata menikmati “kebebasan” yang dicari-cari itu. Apakah kini udara demokrasi sudah boleh dihirup?

Perkembangan sehingga kini belum dapat mengambarkan hasrat dan cita-cita untuk merasai hidup era pasca “kekejaman” Mubarak dapat dinikmati dalam masa yang terdekat.

Antaranya: Egypt protesters and troops clash. Rusuhan demi rusuhan tetap berlaku. Medan Tahrir masih menjadi medan himpunan yang tidak kesudahan. Semacam badi Mubarak itu masih ada.

Jangan sampai percaturan menggulingkan Saddam Hussien terulang lagi. Kekejaman Saddam sekian lama berakhir dengan kematiannya ditangisi apabila suasana Iraq yang masih bermandi darah untuk sekian lama selepas menjemput Amerika masuk untuk campur tangan.

17 Disember - di mana demokrasi dan keamanan yang dicari? Apakah kehidupan sebegini yang dicari pasca Hosni Mubarak?

Apakah suasana kini lebih aman? Apakah percaturan politik sedemikian menguntungkan selepas kini Syiah yang menguasai kerajaan melepaskan geram mereka? Siapa yang untung?

Apakah selepas menjemput NATO untuk melumpuhkan keseluruhan sistem pertahan negara Libya rakyat dapat nikmati bidup baru pasca Gaddafi? Apakah “kenikmatan” pelabagai kemudahan bagi rakyat kebanyakan akan dapat diteruskan oleh oleh kepimpinan ad hoc yang rapuh dapat berjanji untuk tidak mengulangi kekejaman Gaddafi? Laporan pelbagai berita menyiarkan mereka yang setia dengan Gaddafi pula yang menerima kesengsaraan. Apakah itu keadilan dan demikrasi yang dilaungkan?

Ya Rabb, lindungilah tanah air kami dari mala petaka dan kekacauan yang tidak menentu. Selamatkanlan umat Islam di tanah air ku kami.

Bacaan lain:

We always look back with such a nostalgic memories of our school, Sultan Sulaiman Secondary School (SSSS or SS, as we always refer). Thus, this blog was created to bring back those memories.

Besides writing as much as I could for this Sulaimanian blog (other than maintaining 10 other blogs) there is always a limit to it. Thus, I make use of my school magazine collection(starting from 1958 until as recent as 2009 – of course with some missing ones in between), scan some of the relevant pages and post it here.

To cater such a wide range of Sulaimanian alumni, I will have to switch between the old magazines, not so old and the more recent ones – so that I could maintain to attract all the visitors (Sulaimanians) to this blog.

We have so many happenings around/related to our school and the alumnus. But nothing get fed and updated here if nobody send me those news/articles. Partly because of not being in KT could have distanced me from news of recent school activities.

We have so many big names from our school making headlines in the newspaper almost everyday but still many would not notice as we usually do not mention about SS in the story. Of course everybody knows and read about our schoolmate Tuanku Sultan who had just finished his term as the 13th YDPA. We are all proud to be associated with his former school. And of course his former batch mate are even more proud of having such association – with so many functions organised during his tenure as YDPA.

In an effort to gather as much info that could connect Sulaimanians all over I compiled a non-exhaustive list of blogs/facebook accounts related to our school and listed them on the sidebar – BLOGROLL (go and click the one that could be related to you):

[TELL ME if yours is not listed. I would be glad to add to make it longer]

I also created a FB account (which I called it as “Unofficial” – 1st on the list above). With modest beginning a few months ago, it has now 3000+ friends from all ages. Please like if you want updates of this blog notified.

Keep me motivated by your visits and comments. I thank you all.



Interested in my other blogs? Here are some of them:

Adakalanya kita ingin melihat pembangunan dengan pembaharuan terhadap lanskap sesuatu kampung atau bandar. Namun, dalam mengejar pembangunan material ini, ianya mengorbankan keindahan semulajadi dan menghilangkan tinggalan warisan senibina dan usaha orang-orang dahulu.

Anehnya kita mempromosi pelancongan dengan tema “Terengganu – Where Nature Embraces Heritage” – mana perginya “heritage” apabila semuanya dimusnahkan? Mereka seolah-olah hilang fokus. Yang perlu dibaiki kerana usang dibiarkan mencemar permandangan. Yang bersejarah dan dijaga keindahannya dikatakan usang (dan ini).

Hilangnya deretan bangunan-bangunan lebih 100 tahun usianya di Kedai Payang/Jalan Bandar sukar untuk saya lupakan. Usaha-usaha terakhir kami untuk menyelamatkan bangunan sejarah (hingga tercetusnya blog ini: diendah dan dilayan oleh mereka yang duduk di kerusi empuk. Mereka yang hanya bersenang di bilik berhawa dingin tidak bersedia mendengar keluhan para peniaga yang diarah berpindah dengan tempoh yang tergesa-gesa. Maka satu persatu sejarah dilupuskan demi mencari keindahan baru.

Saya kongsikan di sini beberapa keping gambar dari poskad yang masih tersimpan sebagai kenangan bersama.

Pasar Kedai Payang kini dipanggil Pasar Payang oleh mereka yang tindak kenal sejarah asal. Bangunan jam besar (kelihatan sebahagian sahaja di sebelah kiri) sudah lama digondol tidak berganti.

Bahagian Masjid Abidin yang mengadap Istana Maziah

Senibina bahagian tambahan Masjid Abidin yang dibina zaman pemerintahan Al Marhum Sultan Ismail ini sudah tiada lagi.  Menara mirip Masjid Negara yang dibina selepas baginda tamat tempoh menjadi Agong (serta membawa balik Bilal Isa dari Masjid Negara yang merdu alunan azannya untuk bertugas di Masjid Putih) sudah diganti. Dan menjadi amat sedih ialah dengan perbelanjaan yang begitu besar untuk mengindahkan Masjid Putih ianya dibuat sambil lewa tanpa pemantauan yang baik. Kebocoran dari awal projek siap sehingga kini tidak dibaiki (baca di sini)

Bulatan penyu ini diganti pula dengan replica batu bersurat.

Apakah untuk dibiarkan semak samun begini sebabnya penduduk dihalau sebelum sempat beraya dengan sanak saudara?

Dalam mengejar pembangunan lalu menghambat para penduduk sekitar Ladang Tok Pelam dan yang berdekatan, apa jadi dengan pembangunan tersebut selepas setahun dipaksa pindah ketika mereka sedang dalam bulan Ramadan dan bersedia untuk menyambut Eidul Fitri (mengingatkan kembali peristiwa 2009).

Insha Allah, jika diizinkan Allah, akan saya kongsikan lagi gambar-gambar lama yang lain.

Teks SMS dari Ustaz Zuhir Abdullah:

Ceramah Ustaz Kazim Elias

Tajuk:  “Anakku Amanahku”

di Surau Kemensah Heights, Ulu Klang

12 Disember 2011 – Isnin (Lepas Maghrib) – MALAM INI


Klik di bawah untuk:

Ustaz Kazim: Aku Terima Nikahnya – 12 Mei 2012

[Kuliah Bulanan Ustaz Kazim – Januari 2012]


Terkini Disember 2012:

Ustaz Kazim – Cinta Allah Cinta Rasul – di Keramat KL


Bagaikan kata peribahasa Melayu:

Raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah

Semoga ini menjadi contoh kepada seluruh pemimpin masyarakat serta menjadi budaya kita agar tidak membazirkan wang ringgit.


PETALING JAYA (The Star): The Sultan of Selangor doesn’t want anything lavish for any function he attends, and has asked organisers to stop giving him mementoes.

Sultan Sharafuddin Idris Shah asked the state government and the public not to make any elaborate preparation to honour his presence which he said would be a waste of money.

“There is no need to spend RM60,000 to engage a singer to entertain me, or hire a well-known emcee for the event. What purpose does that serve? I am fine with an emcee provided by the state information department,” he said.

He advised organisers to give him books instead, saying he could pass them on to the public library after he had read them.

Satu kemalangan 14 buah kereta mewah yang membabitkan jumlah kos kenderaan yang termahal di dunia setakat ini berlaku di Tokyo Ahad lalu. Anggaran sekitar RM12.5 juta jumlah nilai semua 14 kereta yang terbabit, terdiri dari 8 buah Ferari, 3 buah Mercedes, satu  Lamborghini, satu Prius dan satu lagi jenis Toyota.

Baca berita yang dipetik dari The Guardian:

Ferraris destroyed in costly Japan motorway pile-up

Lamborghini and three Mercedes among sports cars involved in crash described as one of the most expensive ever.

It is entirely possible that the drivers involved in a 14-car pile-up on a motorway in Japan on Sunday might just have been speeding at the time of the accident.

Eight Ferraris, a Lamborghini, three Mercedes, a Prius and a second Toyota worth a combined total of £2.5m were involved in the crash – making it one of the most expensive recorded.

Police believe the accident, on the Chugoku expressway in Shimonoseki, south-western Japan, occurred when the driver of one of the Ferraris tried to change lanes and hit a barrier on the rain-soaked road. The driver spun across the motorway and the other cars collided while trying to avoid hitting his car. The debris was spread over about 400 metres of the motorway.

The lead Ferrari was being driven by a 60-year-old self-employed man from the southern island of Kyushu, police said.

An unnamed witness told the TBS broadcaster that the convoy appeared to be travelling at between 85 and 100mph. “One of them spun and they all ended up in this great mess.” The speed limit on that section of the motorway is 50mph.

Video of the crash showed several smashed red Ferraris cluttering the motorway. The drivers are thought to have been on their way to a gathering of supercars in Hiroshima, 80 miles away, when the accident occurred.

Even a used Ferrari in Japan can fetch £65,000 or more. One of the cars involved was said to be a Ferrari F360, which sell in Japan for more than £147,000. Reports said it took more than six hours to remove the wreckage. Another car was thought to be a Ferrari F430 Scuderia, which has a top speed of 200mph.

Police declined to comment on the total amount of damage, but said some of the vehicles were beyond repair.

No one was seriously injured, but police in Yamaguchi prefecture said 10 people – five men and five women – had been treated for cuts and bruises.

The automobile enthusiasts, aged between 37 and 60, were condemned by Japanese police. “It was a gathering of narcissists,” Mitsuyoshi Isejima of the Yamaguchi prefecture expressway traffic unit told Bloomberg.

Ingatkan saya …

... dalam pelbagai pertemuan dengan saudara-saudara sekalian, terutama selepas mana-mana sesi taklimat, kadang-kadang ada yang meminta sesuatu dari saya. Kerap kali dalam kesibukan serta kelemahan saya sendiri, ada ketika janji-janji tersebut terlupa saya tunaikan ... tolong ingatkan saya. PM di FB saya atau emel kepada saya


akarimomar Youtube Channel

Click here to go to my Youtube Channel:

Buku-buku Armies of God dan Sang Nila Utama & Lion of Judah MESTI DIBACA

Tulisan Mr. Iain Buchanan yang mendedahkan agenda Evangelis Kristian ...
Untuk tempahan dan pesanan.

Buku2 Iain - poster1


Bicara Promoter LGBT

Maulid Pelajar Tahfiz

Tembakan Bedil di Bukit Pak Apil

Klik untuk tonton

Buku-buku Karangan Awang Goneng: Growing Up in Trengganu + A Map of Trengganu

Klik imej:


SMS: 019-3199788 (Karim)

Bacaan Hizib


Effective Islamic Parenting

December 2011

Taqwim Solat – Prayer Time

Al Masjid – Memakmurkan masjid

Sinopsis Kitab Fiqh Akbar

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 361 other subscribers